MAHERA "Rumah Herbal An Naura" adalah blog sosialisasi, pendidikan dan bisnis penjualan produk - produk herbal berkhasiat untuk pengobatan ataupun pencegahan penyakit, halal dan murah, telah terdaftar di Badan POM RI, LPPOM MUI, dan Dinas Kesehatan serta berisi tulisan pribadi tentang pernak-pernik kehidupan sehari-hari
Tampilkan postingan dengan label rumah herbal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah herbal. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Juni 2012
Rabu, 13 Juni 2012
Lhitension untuk Meringankan Tekanan Darah Tinggi
Orang sering mengira, sakit kepala di pagi hari, tegang leher, jantung berdebar, dan telinga berdengung adalah gejala hipertensi. Nyatanya penyakit ini biasa hadir tanpa tanda. Ia tak bisa disembuhkan, tetapi jika terkendali semua komplikasi dijamin tak bakal beraksi.
Tekanan darah sering meningkat terutama saat orang melakukan aktivitas berat seperti olahraga, merasa sangat bahagia, atau stres. Peningkatan tekanan dan percepatan sirkulasi ini normal karena aktivitas dan emosi butuh energi ekstra serta oksigen yang cukup untuk disalurkan ke pembuluh darah.
Setelah akivitas berkurang, tubuh serta mental akan rileks lagi. Tekanan darah pun kembali normal.
Yang tidak normal, bila tekanan darah naik dan untuk beberapa lama bertahan meski sudah rileks dan tidak beraktivitas lagi. Itulah keadaan yang disebut hipertensi. Menurut Dr. Antonia A. Lukito, Sp.JP, hipertensi tidak memperlihatkan tanda-tanda atau gejala di tingkat awal, sehingga sering disebut silent killer.
Hipertensi memang seringkali datang diam-diam, dan tahu-tahu sudah merenggut nyawa. Kalaupun tidak sefatal itu, pasien bisa terkena efek lanjut berupa stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung.
Pada tahun 1995, Survei Kesehatan Rumah Tangga menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia sudah mencapai 83 per 1.000 anggota rumah tangga. Wanita lebih banyak yang terkena ketimbang pria. Angka yang cukup tinggi bukan? Tentu saja angka ini akan terus bertambah.
Survei yang sama sebelumnya, tahun 1986, hipertensi disebutkan sebagai penyebab utama kematian pada penderita jantung koroner di Indonesia. Jumlah kasusnya 42,8 per 100.000 kematian.
Hipertensi yang sudah mencapai tahap lanjut, artinya sudah terjadi bertahun-tahun, bisa dirasakan gejalanya. Biasanya muncul sakit kepala, napas pendek, pandangan mata kabur, dan gangguan tidur.
Sebelum semua itu telanjur menyerang, cara yang paling tepat untuk mengetahui ada-tidaknya hipertensi yakni dengan mengukur tekanan darah. “Yang diukur itu tekanan pada pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh,” tutur spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Siloam Gleneagles ini. Tekanan darah bisa diukur dengan sfigmomanometer air raksa atau alat pengukur elektronik.
Pada orang normal, tekanan darah sepanjang hari tidak selalu sama. Saat bangun, bekerja, waktu emosi meluap, sesudah makan atau sakit, tekanan darah bisa meningkat. Ketika tidur dan istirahat, tekanan darah akan turun. Karena itu, pengukuran tekanan darah perlu dijalankan berulang kali, bila curiga ada hipertensi.
Sekitar 90-95 persen penyebab hipertensi belum diketahui. Berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi jenis primer, misalnya bertambahnya usia, stres, keturunan, dan insomnia.
Ada juga hipertensi yang bisa diketahui penyebabnya. Hipertensi jenis sekunder ini akibat gangguan pada pembuluh darah yang memasok darah ke ginjal (hipertensi renovaskular) maupun sel-sel ginjal sendiri (hipertensi renal). Gangguan itu seperti penyempitan arteri renal (stenosis), tumor ginjal, batu ginjal, luka di ginjal, dan glomerulonefritis.
Gangguan pada organ ini memicu pengiriman perintah lanjutan ke otak, yakni suplai lebih banyak darah. Akibatnya, otak bereaksi dengan meningkatkan tekanan darah. Padahal, peningkatan tekanan darah ini juga terjadi pada organ-organ lain yang tidak mengirim tanda.
Dalam hal ini otak dan ginjal yang berisiko tinggi mengalami kerusakan kalau tekanan darah meningkat. “Karena itu, bila hipertensi tidak segera dikoreksi akan menimbulkan masalah serius,” kata Dr. Antonia. Selain stroke, bila gangguan terjadi pada otak dan ginjal yang bisa muncul dalam bentuk gagal ginjal, bisa muncul penyakit jantung kongestif dan gagal jantung.
Jadi, pada dasarnya hipertensi primer bisa merusak dan memperparah rusaknya organ tubuh, atau sebaliknya, rusaknya organ tubuh bisa menyebabkan hipertensi (sekunder). @ Abdi Susanto, Tabloid Senior.
Tekanan darah sering meningkat terutama saat orang melakukan aktivitas berat seperti olahraga, merasa sangat bahagia, atau stres. Peningkatan tekanan dan percepatan sirkulasi ini normal karena aktivitas dan emosi butuh energi ekstra serta oksigen yang cukup untuk disalurkan ke pembuluh darah.
Setelah akivitas berkurang, tubuh serta mental akan rileks lagi. Tekanan darah pun kembali normal.
Yang tidak normal, bila tekanan darah naik dan untuk beberapa lama bertahan meski sudah rileks dan tidak beraktivitas lagi. Itulah keadaan yang disebut hipertensi. Menurut Dr. Antonia A. Lukito, Sp.JP, hipertensi tidak memperlihatkan tanda-tanda atau gejala di tingkat awal, sehingga sering disebut silent killer.
Hipertensi memang seringkali datang diam-diam, dan tahu-tahu sudah merenggut nyawa. Kalaupun tidak sefatal itu, pasien bisa terkena efek lanjut berupa stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung.
Pada tahun 1995, Survei Kesehatan Rumah Tangga menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia sudah mencapai 83 per 1.000 anggota rumah tangga. Wanita lebih banyak yang terkena ketimbang pria. Angka yang cukup tinggi bukan? Tentu saja angka ini akan terus bertambah.
Survei yang sama sebelumnya, tahun 1986, hipertensi disebutkan sebagai penyebab utama kematian pada penderita jantung koroner di Indonesia. Jumlah kasusnya 42,8 per 100.000 kematian.
Hipertensi yang sudah mencapai tahap lanjut, artinya sudah terjadi bertahun-tahun, bisa dirasakan gejalanya. Biasanya muncul sakit kepala, napas pendek, pandangan mata kabur, dan gangguan tidur.
Sebelum semua itu telanjur menyerang, cara yang paling tepat untuk mengetahui ada-tidaknya hipertensi yakni dengan mengukur tekanan darah. “Yang diukur itu tekanan pada pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh,” tutur spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Siloam Gleneagles ini. Tekanan darah bisa diukur dengan sfigmomanometer air raksa atau alat pengukur elektronik.
Pada orang normal, tekanan darah sepanjang hari tidak selalu sama. Saat bangun, bekerja, waktu emosi meluap, sesudah makan atau sakit, tekanan darah bisa meningkat. Ketika tidur dan istirahat, tekanan darah akan turun. Karena itu, pengukuran tekanan darah perlu dijalankan berulang kali, bila curiga ada hipertensi.
Sekitar 90-95 persen penyebab hipertensi belum diketahui. Berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi jenis primer, misalnya bertambahnya usia, stres, keturunan, dan insomnia.
Ada juga hipertensi yang bisa diketahui penyebabnya. Hipertensi jenis sekunder ini akibat gangguan pada pembuluh darah yang memasok darah ke ginjal (hipertensi renovaskular) maupun sel-sel ginjal sendiri (hipertensi renal). Gangguan itu seperti penyempitan arteri renal (stenosis), tumor ginjal, batu ginjal, luka di ginjal, dan glomerulonefritis.
Gangguan pada organ ini memicu pengiriman perintah lanjutan ke otak, yakni suplai lebih banyak darah. Akibatnya, otak bereaksi dengan meningkatkan tekanan darah. Padahal, peningkatan tekanan darah ini juga terjadi pada organ-organ lain yang tidak mengirim tanda.
Dalam hal ini otak dan ginjal yang berisiko tinggi mengalami kerusakan kalau tekanan darah meningkat. “Karena itu, bila hipertensi tidak segera dikoreksi akan menimbulkan masalah serius,” kata Dr. Antonia. Selain stroke, bila gangguan terjadi pada otak dan ginjal yang bisa muncul dalam bentuk gagal ginjal, bisa muncul penyakit jantung kongestif dan gagal jantung.
Jadi, pada dasarnya hipertensi primer bisa merusak dan memperparah rusaknya organ tubuh, atau sebaliknya, rusaknya organ tubuh bisa menyebabkan hipertensi (sekunder). @ Abdi Susanto, Tabloid Senior.
Komposisi : Daun Seledri, Bee Pollen, dan Bawang Putih
Khasiat : Membantu meringankan tekanan darah tinggi, stroke ringan, dan detoksifikasi racun
Spesifkasi : 30 kapsul @ 500 mg
Harga : Rp. 40.000
Lhiforgin; Ramuan Pencegah Batu Ginjal
Bersyukurlah jika sampai saat ini Anda tidak bermasalah saat buang air kecil. Bersarangnya batu di ginjal sebagai salah satu sumber masalah sebaiknya memang dicegah. Beragam tanaman obat yang musah dijumpai di sekitar kita, bisa dimanfaatkan.
Siapa pun pasti tak ingin merasalah perih saat buang air kecil sebagai salah satu pertanda ada batu yang bersarang di ginjal. Kalau keadaan itu sudah terjadi, konsultasi ke dokter ahli sudah pasti harus segera dilakukan.
Keluhan dan gangguan saat buang air kecil sebenarnya bisa dicegah. Salah satunya dengan memanfaatkan beragam ramuan herba atau tanaman berkhasiat obat secara teratur. Saat ini banyak tanaman obat yang terbukti mampu mengurang atau setidaknya sebagai pelengkap pengobatan batu ginjal oleh dokter.
Berdasarkan beberapa penelitian atau uji klinis yang pernah dilakukan, beberapa tumbuhan diyakini bermanfaat sebagai solusi alami gangguan batu ginjal. Di antaranya daun tempuyung (Sonchus arvensis L), daun kunis kucing (Orthosiphom stamineus Benth), daun keji beling (Strobilanthus crispus B1), akar alang-alang (Imperata cylindrica), dan daun pegagan (Centella asiatica).
Fungsi ginjal sangat kompleks dan vital meliputi filtrasi, ekskresi, sekresi, dan hormonal, yang semuanya berlangsung secara simultan melalui mekanisme pengaturan sendiri (Homeostasis). Karena itu, jika ginjal terganggu, berarti masalah kesehatan yang serius tengah menghadang.
Sejak Mesir Kuno
Dr. Tunggul D. Situmorang, Dipl,/M.Med Si, Sp.PD-KGH, menjelaskan bahwa penyakit batu ginjal (urolitiasis) sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Namun, hingga kini penyebab persisnya belum dapat diketahui secara pasti.
Batu ginjal lazimnya terjadi karena pembentukan zat penyusun batu lebih banyak ketimbang yang dilarutkan. Itu terjadi karena adanya faktor yang menyebabkan kristalisasi dari zat-zat itu dan adanya kelainan yang menyebabkan kristal-kristal berkumpul menjadi satu.
Biasanya batu yang terdapat dalam saluran kemih berupa kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, atau campuran dari senyawa itu. Gejala penderita batu kandung kemih adalah adanya rangsang sakit pada waktu buang air seni, serta di dalam air seni terdapat batu halus, sehingga menimbulkan bercampurnya air seni dengan darah.
Hingga saat ini pengobatan konvensional untuk batu kandung kemih masih belum memuaskan. Jalan keluar dengan pembedahan maupun pemecahan batu menggunakan teknologi modern masih mahal. Karena itu, boleh saja memilih jalur alami dengan menggunakan beragam ramuan herbal.
Beberapa penelitian in vivo (di dalam tubuh hidup) maupun in vitro (di laboratorium) juga telah dilakukan terhadap beberapa tanaman obat yang memiliki manfaat peluruh air seni dan penghancur batu kandung kemih. Penelitian in vitro membuktikan, infus daun tempuyung dapat melarutkan kolesterol, kalsium okslat, dan asam urat ginjal (Widodo, 1987).
Penelitian lain, juga secara in vitro, dilakukan dengan merendam batu ginjal pada ekstrak tempuyung selama enam jam. Ternyata proses itu dapat melarutkan batu ginjal penderita yang diindentifikasi sebagai kalsium oksalat (H. Giri, 1988).
Sementara itu, penelitian Rusdeyti (1985) menunjukkan, infus daun tempuyung yang diberikan kepada kelinci jantan ternyata dapat meningkatkan pengeluaran air seni (efek diuretik). Infus ini juga dapat mencegah pembentukan batu kandung kemih buatan pada tikus (B. Wahjoedi, 1986).
Penelitian lain dilakukan terhadap 23 pasien penderita batu kandung kemih yang diberi ekstrak air daun kumis kucing. Hasilnya, 40 persen pasien mengalami penurunan ukuran batu kandung kemih sebesar 0,5 cm, dan 20 persen merasakan hilangnya sakit (Muangmun W., 1984).
Daun kumis kucing mengandung kalium, saponin, dan glikosida orthosiphon. Untuk diuretik, sebaiknya digunakan daun kumis kucing muda. Hal ini sejalam dengan hasil penelitian Harini NKDK (1989), yang meneliti efek diuretik daun kumis kucing muda dan tua.
Peluruh batu ginjal lainnya, keji beling, merupakan tanaman semak, tingginya dapat mencapai 1-2 m. Secara empiris, herbal ini digunakan untuk diuretik, disentri, wasir karena mengandung kalium dan silikat. Secara in vitro, infus daun keji beling terbukti dapat melarutkan batu saluran kemih (Murwoto, Yusuf M., 1981).
(Sumber: Senior)
Komposisi : Kumis Kucing, Sambiloto, dan Daun Pegagan
Khasiat : Membantu meluruhkan batu oksalat di ginjal dan saluran kemih
Spesifikasi : 30 kapsul @ 500 mg
Harga : Rp. 40.000
Hubungi : Umar (085245226785) atau Aini (085228411955)
Siapa pun pasti tak ingin merasalah perih saat buang air kecil sebagai salah satu pertanda ada batu yang bersarang di ginjal. Kalau keadaan itu sudah terjadi, konsultasi ke dokter ahli sudah pasti harus segera dilakukan.
Keluhan dan gangguan saat buang air kecil sebenarnya bisa dicegah. Salah satunya dengan memanfaatkan beragam ramuan herba atau tanaman berkhasiat obat secara teratur. Saat ini banyak tanaman obat yang terbukti mampu mengurang atau setidaknya sebagai pelengkap pengobatan batu ginjal oleh dokter.
Berdasarkan beberapa penelitian atau uji klinis yang pernah dilakukan, beberapa tumbuhan diyakini bermanfaat sebagai solusi alami gangguan batu ginjal. Di antaranya daun tempuyung (Sonchus arvensis L), daun kunis kucing (Orthosiphom stamineus Benth), daun keji beling (Strobilanthus crispus B1), akar alang-alang (Imperata cylindrica), dan daun pegagan (Centella asiatica).
Fungsi ginjal sangat kompleks dan vital meliputi filtrasi, ekskresi, sekresi, dan hormonal, yang semuanya berlangsung secara simultan melalui mekanisme pengaturan sendiri (Homeostasis). Karena itu, jika ginjal terganggu, berarti masalah kesehatan yang serius tengah menghadang.
Sejak Mesir Kuno
Dr. Tunggul D. Situmorang, Dipl,/M.Med Si, Sp.PD-KGH, menjelaskan bahwa penyakit batu ginjal (urolitiasis) sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Namun, hingga kini penyebab persisnya belum dapat diketahui secara pasti.
Batu ginjal lazimnya terjadi karena pembentukan zat penyusun batu lebih banyak ketimbang yang dilarutkan. Itu terjadi karena adanya faktor yang menyebabkan kristalisasi dari zat-zat itu dan adanya kelainan yang menyebabkan kristal-kristal berkumpul menjadi satu.
Biasanya batu yang terdapat dalam saluran kemih berupa kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, atau campuran dari senyawa itu. Gejala penderita batu kandung kemih adalah adanya rangsang sakit pada waktu buang air seni, serta di dalam air seni terdapat batu halus, sehingga menimbulkan bercampurnya air seni dengan darah.
Hingga saat ini pengobatan konvensional untuk batu kandung kemih masih belum memuaskan. Jalan keluar dengan pembedahan maupun pemecahan batu menggunakan teknologi modern masih mahal. Karena itu, boleh saja memilih jalur alami dengan menggunakan beragam ramuan herbal.
Beberapa penelitian in vivo (di dalam tubuh hidup) maupun in vitro (di laboratorium) juga telah dilakukan terhadap beberapa tanaman obat yang memiliki manfaat peluruh air seni dan penghancur batu kandung kemih. Penelitian in vitro membuktikan, infus daun tempuyung dapat melarutkan kolesterol, kalsium okslat, dan asam urat ginjal (Widodo, 1987).
Penelitian lain, juga secara in vitro, dilakukan dengan merendam batu ginjal pada ekstrak tempuyung selama enam jam. Ternyata proses itu dapat melarutkan batu ginjal penderita yang diindentifikasi sebagai kalsium oksalat (H. Giri, 1988).
Sementara itu, penelitian Rusdeyti (1985) menunjukkan, infus daun tempuyung yang diberikan kepada kelinci jantan ternyata dapat meningkatkan pengeluaran air seni (efek diuretik). Infus ini juga dapat mencegah pembentukan batu kandung kemih buatan pada tikus (B. Wahjoedi, 1986).
Penelitian lain dilakukan terhadap 23 pasien penderita batu kandung kemih yang diberi ekstrak air daun kumis kucing. Hasilnya, 40 persen pasien mengalami penurunan ukuran batu kandung kemih sebesar 0,5 cm, dan 20 persen merasakan hilangnya sakit (Muangmun W., 1984).
Daun kumis kucing mengandung kalium, saponin, dan glikosida orthosiphon. Untuk diuretik, sebaiknya digunakan daun kumis kucing muda. Hal ini sejalam dengan hasil penelitian Harini NKDK (1989), yang meneliti efek diuretik daun kumis kucing muda dan tua.
Peluruh batu ginjal lainnya, keji beling, merupakan tanaman semak, tingginya dapat mencapai 1-2 m. Secara empiris, herbal ini digunakan untuk diuretik, disentri, wasir karena mengandung kalium dan silikat. Secara in vitro, infus daun keji beling terbukti dapat melarutkan batu saluran kemih (Murwoto, Yusuf M., 1981).
(Sumber: Senior)
Komposisi : Kumis Kucing, Sambiloto, dan Daun Pegagan
Khasiat : Membantu meluruhkan batu oksalat di ginjal dan saluran kemih
Spesifikasi : 30 kapsul @ 500 mg
Harga : Rp. 40.000
Hubungi : Umar (085245226785) atau Aini (085228411955)
Ragam Herbal Kapsul untuk Kesehatan
Ragam Produk Herbal untuk Pengobatan dan Pencegahan penyakit Asam Urat,
Diabetes, Hipertensi, Kanker, Maag, dan TBC serta produk-produk lainnya
untuk meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.
Spesifikasi :
- 1 botol isi 45 kapsul @ 500 mg harga Rp. 50.000
- 1 botol isi 30 kapsul @ 500 mg harga Rp. 45.000
Khusus untuk area Palangkaraya bisa datang langsung ke Rumah Herbal Palangkaraya Jl. Manyar Raya No. 220 (Cilik Riwut Km 7) tiap hari Senin - Jumat pkl 15.00 - 20.00 atau bisa kami antar langsung dengan minimal belanja senilai Rp. 100.000,-
Pemesanan via telp/sms hub : 085245226785 (Umar) / 085228411955 (Aini)
Kamis, 24 Mei 2012
Mengenal Ceremai dan Manfaatnya
Ceremai (Phyllanthus acidus [L.] Skeels)
1. Nama tanaman
Ceremai, Cereme (Indonesia); Otaheite gooseberry, Malay gooseberry (Inggris); Cermai (Melayu); Ma-yom (Thailand).
2. Klasifikasi :
Divisi : Spematophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Euphorbiales
Suku : Euphorbiaceae
Marga : Phyllanthus
Jenis : Phyllanthus acidus (L.) Skeels
Divisi : Spematophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Euphorbiales
Suku : Euphorbiaceae
Marga : Phyllanthus
Jenis : Phyllanthus acidus (L.) Skeels
3. Uraian tanaman
Habitus : pohon, tinggi ± 10 cm. Batang : tegak, bulat, berkayu,
mudah patah, kasar, percabangan monopodial, coklat muda. Daun : majemuk,
lonjong, berseling, panjang 5-6 cm, lebar 2-3 cm, tepi rata, ujung
runcing, pangkal tumpul, pertulangan menyirip, halus, tangkai silindris,
panjang ± 2 cm, hijau muda. Bunga : majemuk, bulat, di ranting, tangkai
silindris, panjang ± 1 cm, hijau muda, kelopak bentuk bintang, halus,
mahkota merah muda. Buah : bulat, permukaan berlekuk, kuning
keputih-putihan. Biji : bulat pipih, coklat muda. Akar : tunggang,
coklat muda (Hutapea, 1994)
4. Kandungan Kimia
- Buah mengandung vitamin C.
- Daun, kulit batang, dan kayu mengandung saponin, flavonoid, tanin, dan polifenol.
- Daun Ceremai berkhasiat sebagai peluruh dahak, pencahar (purgatif), mual, kanker, dan sariawan.
- Akar mengandung saponin, asam galus, zat samak, dan zat beracun (toksik).
4. Manfaat Ceremai untuk Kesehatan

Ceremei dapat juga dimakan segar dengan dicampur gula, garam atau dirujak. Cermai juga kerap dibuat manisan, direbus (disetup) atau dibuat minuman penyegar. Daun mudanya dapat digunakan sebagai lalap.
Ceremei dapat juga dimakan segar dengan dicampur gula, garam atau dirujak. Cermai juga kerap dibuat manisan, direbus (disetup) atau dibuat minuman penyegar. Daun mudanya dapat digunakan sebagai lalap.
Selain itu ceremei memiliki aneka manfaat
sebagai tanaman herbal (obat tradisional). Menurut dr. Setiawan
Dalimartha dalam buku Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I, beberapa
khasiat ceremei antara lain untuk mengobati kanker, melangsingkan tubuh,
mengobati asma, dan mengobati sembelit.
- Untuk mengobati kanker, rebuslah 1/4 genggam daun ceremai muda, 1/3 genggam daun belimbing, 1/2 jari bidara upas, 1/2 jari gadung cina dan 3 jari gula enau dengan 3 gelas air hingga tersisa sekitar 3/4nya. Setelah dingin saring dan minum 3 kali sehari masing – masing 3/4 gelas.
- Sedangkan jika ingin melangsingkan tubuh, caranya, rebus beberapa daun ceremai secukupnya dengan air secukupnya pula, kemudian minum air rebusan tersebut. Namun jangan mengkonsumsi dalam jangka waktu yang lama karena efek dari kandungan daun ceremai bekerja sangat kuat.
- Ceremei juga dapat mengobati asma, yaitu dengan cara, tumbuk 6 buah biji ceremai, 2 butir bawang merah, 1/4 genggam akar kara, 8 butir buah lengkeng , kemudian rebus dengan 2 gelas air hingga tersisa sekitar 11/2 gelas. Setelah dingin saring dan minum 2 kali sehari masing – masing 3/4 gelas.
- Manfaat lain adalah untuk mengobati Sembelit. Caranya, giling halus 3/4 sendok teh biji ceremai, kemudian seduh dengan 1/2 cangkir air hangat dan tambahkan 1 sendok makan madu. Aduk sampai rata dan minum sekaligus, lakukan 2 kali sehari.
Vongvanich et al (2000)
melaporkan penemuan senyawa glikosida Norbisabolane yaitu
Phyllanthusols A and B yang bersifat sitotoksik terhadap BC dan KB cell
lines. Phyllanthusols A (1) dan B (2) menunjukkan sitotoksisitas
terhadap BC (EC50 pada 4.2 dan 4.0 μg/mL untuk 1 and 2, masing-msaing)
dan KB (EC50 pada 14.6 dan 8.9 μg/mL untuk 1 dan 2, respectively) cell
lines, sedangkan aglikon 3 dan sakarida 4 tidak menunjukkan efek toksik.
Senyawa ini ada dalam tanaman dengan karadar yang cuku p tinggi (ca. 1
mg/g berat basah) dan senyawa sitotoksik glikosida norbisabolane g 1
pada akar P. acidus, yang mungkin bertanggung jawab terhadap penyakit
kronis ketika sesorang meminum ektrak akar tanaman ini. Di Thailand, akar tanaman dimanfaatkan sebagai rehabilitasi dari
seseorang yang kecanduan alkohol. Pengobatan ini sangat efektif, namun
dapat menimbulkan efek samping kronis yang cukup serius.
Sumber :
- http://www.ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id=116
- Dalimartha, dr setiawan; Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (via books.google.co.id
- www.plantamor.com/index.php?plant=987
Kini telah hadir paduan Green Tea dan Daun Ceremai yang berkhasiat membantu menurunkan kadar lemak tubuh... Nikmati kesegaran dan kemudahan saat menyeduhnya dalam 25 kantong
Teh Celup Ceremai Green Tea
Harga : Rp. 30.000
Pemesanan :
Lihat Cara Pemesanan dan Kirim via Order Form atau sms ke 085245226785 (Umar)
Label:
ceremai,
ceremai teh herbal,
herbal ceremai,
jual teh ceremai,
khasiat ceremai,
khasiat daun ceremai,
manfaat ceremai,
rumah herbal,
rumah herbal alami,
teh ceremai
Selasa, 22 Mei 2012
Pemanfaatan Herbal untuk Pengobatan
Pada bagian tanaman seperti yang tercantum di bawah ini dapat
dimanfaatkan sebagai obat. Bagian tanaman terdiri dari bagian daun,
kulit batang, buah, biji, bahkan pada bagian akarnya.[5]
Daun
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Daun dewa (Gynura Segetum)
Mengobati muntah darah dan payudara bengkak
2. Seledri
Mengobati tekanan darah tinggi
3. Belimbing Mengobati tekanan darah tinggi
4. Kelor
Mengobati panas dalam dan demam
5. Daun bayam duri
Mengobati kurang darah
6. Kangkung
Mengobati insomnia
7. Saga (Abrus precatorius)
Mengobati batuk dan sariawan
8. Pacar cina (Aglaiae ordorota Lour) Mengobati penyakit gonorrhoe (penyakit kelamin)
9. Landep (Barleriae prionitis L.)
Mengobati rematik
10. Miana (Coleus atropurpureus Bentham) Mengobati wasir
11. Pepaya (Carica papaya L.)
Mengobati demam dan disentri
12. Jintan (Coleus amboinicus) Mengobati batuk, mules, dan sariawan
13. Pegagan (Cantella asiatica Urban) Mengobati sariawan dan bersifat astringensia (mampu membasmi bakteri)
14. Blustru (Luffa cylindrice Roem) Bersifat diuretik (peluruh air seni)
15. Kemuning (Murrayae paniculata Jack) Mengobati penyakit gonorrhoe
16. Murbei (Morus indica Rumph)
Bersifat diuretik
17. Kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth) Bersifat diuretik
18. Sirih (Chavica betle L.)
Mengobati batuk, antiseptika (membunuh mikroorganisme berbahaya), dan obat kumur
19. Randu (Ceiba pentandra Gaerth) Sebagai obat mencret dan kumur
20. Salam (Eugenia polyantha Wight) Bersifat astringensia
21. Jambu biji (Psidium guajava L.) Mengobati mencret
Batang
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Kayu manis (Cinnamomum burmanii) Mengobati penyakit batuk dan sesak napas, nyeri lambung, perut kembung, diare, rematik, dan menghangatkan lambung
2. Dadap ayam (Erythrina varigata Linn.Var.orientalis) Mengobati asma
3. Pulasari (Alyxia stellata Roem)
Obat perut kembung
4. Brotawali (Tonospora rumphii Boerl) Mengobati demam, sakit kuning, obat cacingan, kudis, dan diabetes
5. Kemukus (Piper cubeba L.)
Obat radang selaput lendir saluran kemih
6. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) Sebagai antiseptik, sehingga dapat dipakai sebagai obat kumur
7. Delima (Punice granatum L.)
Sebagai anti cacing pita (obat antelmentika)
Buah
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) Mengobati penyakit demam, batuk kronis, kurang darah, menghentikan kebiasaan merokok, menghilangkan bau badan, menyegarkan tubuh, dan memperlancar buang air kecil
2. Cabai merah (Capsicum annuum L.) Obat gosok untuk penyakit rematik dan masuk angin
3. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) Mengobati penyakit batuk, melegakan napas, dan mencairkan dahak
4. Mengkudu (Morinda citrifolia) Mengobati penyakit radang usus, susah buang air kecil, batuk, amandel, difetri, lever, sariawan, tekanan darah tinggi, dan sembelit
5. Kemukus (Piper cubeba L.)
Obat radang selaput lendir saluran kemih
6. Kapulaga (Elettaria cardamomum Maton) dan ketumbar (Coriandrum sativum L.) Obat antikembung
Biji
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Kecubung (Datura metel) Mengobati penyakit asma, bisul, dan anus turun
2. Kapur barus (Dryobalanops aromatica Gaertn.) Mengobati gangguan pencernaan
3. Pinang (Areca catecha L.) Tepung biji pinang berkhasiat sebagai obat antelmentika, terutama terhadap cacing pita
4. Kedawung (Parkia biglobosa Bentham) Sebagai bahan obat sakit perut, mulas, diare, dan bersifat astringensia
5. Pala (Myristica)
Mengatasi perut kembung, sebagai stimulansia setempat terhadap saluran pencernaan, bahan obat pembius, menyebabkan rasa kantuk, dan memperlambat pernapasan
6. Jamblang (Eugenia cumini Merr) Sebagai bahan obat untuk menyembuhkan penyakit kencing manis (diabetes)
Akar
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Pepaya (Carica papaya L.) Obat cacing
2. Aren (Arenga pinnata Merril) Obat diuretik
3. Pule pandak (Rauwolfia serpentina Benth) Obat antihipertensiva dan gangguan neuropsikhlatrik, seperti tekanan darah tinggi
Umbi atau rimpang
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Bangle (Zingiber purpureum Roxb.) Mengobati sakit kepala, susah buang air besar, nyeri pada perut, sakit kuning, perut kembung, dan melangsingkan tubuh
2. Jahe (Zingiber officinale Rosc.) Menghangatkan badan, mengobati sakit pinggang, asma, muntah, dan nyeri otot
3. Kencur (Kaempferia galanga L.) Mengobati sakit kepala, obat batuk, melancarkan keringat, dan mengeluarkan dahak
4. Kunyit (Curcuma domestica Val.) Mengobati diare, masuk angin, hepatitis, dan kejang-kejang
5. Lempuyung (Zingiber zerumbel) Obat pelangsing, penambah nafsu makan, disentri, dan diare
6. Lengkuas (Languas galanga L.Stunzt) Mengobati panu, serta bersifat antifungi dan anti bakteri
7. Temu giring (Curcuma heynaena Val.) Obat anti cacing, sakit perut, dan melangsingkan tubuh
8. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Mengatasi sembelit, memperbanyak ASI, dan memperkuat sekresi empedu
9. Temu hitam (Curcuma aeroginosa Roxb.) obat anti cacing, mencegah kelesuan, dan memperlancar peredaran darah
10. Alang-alang (Imperata cylindrica Beav.) Obat untuk memperlancar air seni (diuretik)
Gambar Berbagai Jenis Tanaman Obat Tradisional
Daun sirih
Kayu manis
Buah mengkudu
Biji pinang
Akar pohon aren
Temulawak
Daun pepaya
Pohon delima
Faktor peningkatan penggunaan tanaman obat
Kecenderungan meningkatnya penggunaan obat tradisional didasari oleh beberapa faktor, yaitu:[6]
1. Pada umumnya, harga obat–obatan buatan pabrik yang sangat mahal, sehingga masyarakat mencari alternatif pengobatan yang lebih murah.
2. Efek samping yang ditimbulkan oleh obat tradisional sangat kecil dibandingkan dengan obat buatan pabrik.[6]
3. Kandungan unsur kimia yang terkandung di dalam obat tradisional sebenarnya menjadi dasar pengobatan kedokteran modern. Artinya, pembuatan obat–obatan pabrik menggunakan rumus kimia yang telah disentetis dari kandungan bahan alami ramuan tradisional.
Referensi
1. ^ a b c d e Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga) untuk Kesehatan Keluarga, library.usu.ac.id. Diakses pada 24 Juli 2010.
2. ^ a b c d e f g h i j k l m n Sejarah Tanaman Obat, Rizhosu. Diakses pada 28 Mei 2010.
3. ^ a b c d e f g Sejarah Penggunaan Tanaman Obat-Obatan , Stifar. Diakses pada 5 Juni 2010.
4. ^ a b c d (en) A History of Chinese Herbs and Medicine, Life123. Diakses pada 5 Juni 2010.
5. ^ Hariana, H. Arief. (2006). Tumbuhan Obat & Khasiatnya 3. Jakarta:Swadaya. ISBN 979-002-008-2, 9789790020085. Hal 5-9.
6. ^ a b Salan,Rudy. (2009). Penelitian faktor-faktor psiko-sosio-kultural dalam pengobatan tradisional pada tiga daerah, Palembang, Semarang, Bali. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Pusat Penelitian Kanker dan Pengembangan Radiologi, Departemen Kesehatan RI. Hal 40.
7. ^ a b c d e f g h i j Santoso, Hieronymus Budi. (2008). Ragam dan Khasiat Tanaman Obat. Jakarta Selatan. Agromedia Pustaka. Hal 50.
Sumber:Wikipedia.org
Daun
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Daun dewa (Gynura Segetum)
Mengobati muntah darah dan payudara bengkak
2. Seledri
Mengobati tekanan darah tinggi
3. Belimbing Mengobati tekanan darah tinggi
4. Kelor
Mengobati panas dalam dan demam
5. Daun bayam duri
Mengobati kurang darah
6. Kangkung
Mengobati insomnia
7. Saga (Abrus precatorius)
Mengobati batuk dan sariawan
8. Pacar cina (Aglaiae ordorota Lour) Mengobati penyakit gonorrhoe (penyakit kelamin)
9. Landep (Barleriae prionitis L.)
Mengobati rematik
10. Miana (Coleus atropurpureus Bentham) Mengobati wasir
11. Pepaya (Carica papaya L.)
Mengobati demam dan disentri
12. Jintan (Coleus amboinicus) Mengobati batuk, mules, dan sariawan
13. Pegagan (Cantella asiatica Urban) Mengobati sariawan dan bersifat astringensia (mampu membasmi bakteri)
14. Blustru (Luffa cylindrice Roem) Bersifat diuretik (peluruh air seni)
15. Kemuning (Murrayae paniculata Jack) Mengobati penyakit gonorrhoe
16. Murbei (Morus indica Rumph)
Bersifat diuretik
17. Kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth) Bersifat diuretik
18. Sirih (Chavica betle L.)
Mengobati batuk, antiseptika (membunuh mikroorganisme berbahaya), dan obat kumur
19. Randu (Ceiba pentandra Gaerth) Sebagai obat mencret dan kumur
20. Salam (Eugenia polyantha Wight) Bersifat astringensia
21. Jambu biji (Psidium guajava L.) Mengobati mencret
Batang
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Kayu manis (Cinnamomum burmanii) Mengobati penyakit batuk dan sesak napas, nyeri lambung, perut kembung, diare, rematik, dan menghangatkan lambung
2. Dadap ayam (Erythrina varigata Linn.Var.orientalis) Mengobati asma
3. Pulasari (Alyxia stellata Roem)
Obat perut kembung
4. Brotawali (Tonospora rumphii Boerl) Mengobati demam, sakit kuning, obat cacingan, kudis, dan diabetes
5. Kemukus (Piper cubeba L.)
Obat radang selaput lendir saluran kemih
6. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) Sebagai antiseptik, sehingga dapat dipakai sebagai obat kumur
7. Delima (Punice granatum L.)
Sebagai anti cacing pita (obat antelmentika)
Buah
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) Mengobati penyakit demam, batuk kronis, kurang darah, menghentikan kebiasaan merokok, menghilangkan bau badan, menyegarkan tubuh, dan memperlancar buang air kecil
2. Cabai merah (Capsicum annuum L.) Obat gosok untuk penyakit rematik dan masuk angin
3. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) Mengobati penyakit batuk, melegakan napas, dan mencairkan dahak
4. Mengkudu (Morinda citrifolia) Mengobati penyakit radang usus, susah buang air kecil, batuk, amandel, difetri, lever, sariawan, tekanan darah tinggi, dan sembelit
5. Kemukus (Piper cubeba L.)
Obat radang selaput lendir saluran kemih
6. Kapulaga (Elettaria cardamomum Maton) dan ketumbar (Coriandrum sativum L.) Obat antikembung
Biji
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Kecubung (Datura metel) Mengobati penyakit asma, bisul, dan anus turun
2. Kapur barus (Dryobalanops aromatica Gaertn.) Mengobati gangguan pencernaan
3. Pinang (Areca catecha L.) Tepung biji pinang berkhasiat sebagai obat antelmentika, terutama terhadap cacing pita
4. Kedawung (Parkia biglobosa Bentham) Sebagai bahan obat sakit perut, mulas, diare, dan bersifat astringensia
5. Pala (Myristica)
Mengatasi perut kembung, sebagai stimulansia setempat terhadap saluran pencernaan, bahan obat pembius, menyebabkan rasa kantuk, dan memperlambat pernapasan
6. Jamblang (Eugenia cumini Merr) Sebagai bahan obat untuk menyembuhkan penyakit kencing manis (diabetes)
Akar
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Pepaya (Carica papaya L.) Obat cacing
2. Aren (Arenga pinnata Merril) Obat diuretik
3. Pule pandak (Rauwolfia serpentina Benth) Obat antihipertensiva dan gangguan neuropsikhlatrik, seperti tekanan darah tinggi
Umbi atau rimpang
No. Nama Tanaman Khasiat dan Manfaat
1. Bangle (Zingiber purpureum Roxb.) Mengobati sakit kepala, susah buang air besar, nyeri pada perut, sakit kuning, perut kembung, dan melangsingkan tubuh
2. Jahe (Zingiber officinale Rosc.) Menghangatkan badan, mengobati sakit pinggang, asma, muntah, dan nyeri otot
3. Kencur (Kaempferia galanga L.) Mengobati sakit kepala, obat batuk, melancarkan keringat, dan mengeluarkan dahak
4. Kunyit (Curcuma domestica Val.) Mengobati diare, masuk angin, hepatitis, dan kejang-kejang
5. Lempuyung (Zingiber zerumbel) Obat pelangsing, penambah nafsu makan, disentri, dan diare
6. Lengkuas (Languas galanga L.Stunzt) Mengobati panu, serta bersifat antifungi dan anti bakteri
7. Temu giring (Curcuma heynaena Val.) Obat anti cacing, sakit perut, dan melangsingkan tubuh
8. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Mengatasi sembelit, memperbanyak ASI, dan memperkuat sekresi empedu
9. Temu hitam (Curcuma aeroginosa Roxb.) obat anti cacing, mencegah kelesuan, dan memperlancar peredaran darah
10. Alang-alang (Imperata cylindrica Beav.) Obat untuk memperlancar air seni (diuretik)
Gambar Berbagai Jenis Tanaman Obat Tradisional
Daun sirih
Kayu manis
Buah mengkudu
Biji pinang
Akar pohon aren
Temulawak
Daun pepaya
Pohon delima
Faktor peningkatan penggunaan tanaman obat
Kecenderungan meningkatnya penggunaan obat tradisional didasari oleh beberapa faktor, yaitu:[6]
1. Pada umumnya, harga obat–obatan buatan pabrik yang sangat mahal, sehingga masyarakat mencari alternatif pengobatan yang lebih murah.
2. Efek samping yang ditimbulkan oleh obat tradisional sangat kecil dibandingkan dengan obat buatan pabrik.[6]
3. Kandungan unsur kimia yang terkandung di dalam obat tradisional sebenarnya menjadi dasar pengobatan kedokteran modern. Artinya, pembuatan obat–obatan pabrik menggunakan rumus kimia yang telah disentetis dari kandungan bahan alami ramuan tradisional.
Referensi
1. ^ a b c d e Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga) untuk Kesehatan Keluarga, library.usu.ac.id. Diakses pada 24 Juli 2010.
2. ^ a b c d e f g h i j k l m n Sejarah Tanaman Obat, Rizhosu. Diakses pada 28 Mei 2010.
3. ^ a b c d e f g Sejarah Penggunaan Tanaman Obat-Obatan , Stifar. Diakses pada 5 Juni 2010.
4. ^ a b c d (en) A History of Chinese Herbs and Medicine, Life123. Diakses pada 5 Juni 2010.
5. ^ Hariana, H. Arief. (2006). Tumbuhan Obat & Khasiatnya 3. Jakarta:Swadaya. ISBN 979-002-008-2, 9789790020085. Hal 5-9.
6. ^ a b Salan,Rudy. (2009). Penelitian faktor-faktor psiko-sosio-kultural dalam pengobatan tradisional pada tiga daerah, Palembang, Semarang, Bali. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Pusat Penelitian Kanker dan Pengembangan Radiologi, Departemen Kesehatan RI. Hal 40.
7. ^ a b c d e f g h i j Santoso, Hieronymus Budi. (2008). Ragam dan Khasiat Tanaman Obat. Jakarta Selatan. Agromedia Pustaka. Hal 50.
Sumber:Wikipedia.org
Kamis, 12 April 2012
Perkembangan Obat Herbal di Indonesia
Apakah perbedaan antara rempah-rempah dan biofarmaka?
Biofarmaka adalah sediaan dari bahan alam (nabati maupun hewani) yang mempunyai efek farmakologis, untuk makanan/minuman, suplemen makanan, kosmetik, maupun obat. Rempah-rempah termasuk dalam biofarmaka.
Apa perbedaan antara rempah dan bahan obat herbal?
Sebagai bahan rempah/pangan, tidak dituntut pemenuhan standar/persyaratan tertentu, khususnya menyangkut persyaratan instrinsik. Sebagai obat herbal, dituntut pemenuhan standar/persyaratan tertentu khususnya menyangkut faktor instrinsik. Contohnya, Badan POM telah melakukan sandingan terhadap sekitar 25 hasil penelitian mengenai daun salam dari tempat yang berbeda-beda. Ternyata kandungan senyawa kimianya berbeda-beda. Untuk dapat dijadikan bahan obat herbal, seharusnya tidak boleh ada perbedaan.
Mengapa masih banyak masyarakat maupun pelayanan kesehatan enggan menggunakan obat asli Indonesia. Bila obat herbal tersebut berasal dari luar negeri mereka mudah mengkonsumsinya?
Saya kira tidak, hanya masyarakat tertentu yang demikian. Agar obat herbal dapat diterima masyarakat luas baik dalam negeri maupun luar negeri dan dapat dipakai di pelayanan kesehatan, mau tidak mau obat herbal tersebut harus didukung dengan penelitian. Mestinya masyarakat paham bahwa obat tradisional bermanfaat bagi kesehatan mereka dan mereka harus dapat memilih bahwa suatu produk itu terdaftar atau teregistrasi di Badan POM.
Di samping itu pihak industri juga harus mengembangkan sistem mutu. Misalnya, pembuatan obat tradisional yang baik, mengikuti kaidah-kaidah internasional sehingga mutunya akan lebih terjamin. Mereka juga harus mengembangan penelitian kalau ingin memiliki produk yang kuat.
Sebenarnya apa kriteria obat herbal itu?
Ada tiga kriteria untuk obat herbal yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Ketiga kriteria ini nanti masing-masing akan diberi logo khusus. Jamu adalah sediaan obat herbal Indonesia yang keamanan dan khasiatnya telah diketahui secara turun temurun berdasarkan pengalaman (empiris). Bentuk sediaannya berupa serbuk, pil, cairan, tapel, boreh dan sejenisnya. Obat herbal terstandar adalah sediaan obat herbal Indonesia yang dibuat dari bahan berupa ekstrak atau serbuk yang telah distandarisasi. Status keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan secara ilmiah yaitu uji pra-klinik (menggunakan hewan percobaan). Bentuk sediaan biasanya berupa tablet atau kapsul.
Fitomarmaka adalah sediaan obat herbal Indonesia yang sudah dilakukan uji klinik secara lengkap. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena ada manfaatnya jelas dengan pembuktian.
Di Indonesia sebagian besar produk obat herbal masih berupa jamu, sehingga baru sampai untuk pencegahan, belum bisa mengklaim sebagai obat. Mengapa?
Ya, karena bila mengklaim sebagai obat harus jelas pembuktiannya. Namun demikian, jamu bisa juga diklaim sebagai jamu asal ada keterangan 'secara tradisional dan turun temurun bisa dipakai untuk obat misalnya menurunkan demam'. Bagi obat herbal yang sudah dilakukan uji pra-klinik juga bisa mencantumkan bahwa obat tersebut sudah sampai pada uji pra-klinik.
Di Indonesia sudah berapa jenis fitofarmaka yang terdaftar dan apa kendalanya?
Baru ada empat. antara lain: untuk obat tekanan darah tinggi, obat rematik, diare. Kendalanya disamping biaya, juga harus ada kemauan yang kuat dari pihak industri untuk melakukan research and development. Biaya untuk riset bila dilakukan pemerintah bisa sampai Rp 300 juta per jenis. Sedangkan, kalau dilakukan swasta bisa di atas Rp 500 juta, karena pelaksana uji klinis akan meminta biaya jasa, berbeda halnya bila uji klinis dilakukan di pemerintah, jasa pelaksana tidak dibayar. Kalau teknologi bisa beli mesin yang bagus dan SDM sudah banyak yang terlatih.
Apa yang dilakukan Badan POM untuk mengembangkan obat herbal?
Dalam dua tahun ini (2002-2004) ada sembilan tanaman unggulan yang
dilakukan uji klinis (mengkudu, salam, jambu biji, temulawak, kunyit, cabe jawa, sambiloto, jahe merah, dan jati belanda) oleh Badan POM bekerja sama dengan perguruan tinggi. Ini diharapkan sebagai dorongan bagi pihak industri farmasi. nri
Drs Ruslan Aspan MM
(Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisional Kosmetika dan Produk Komplemen Badan POM)
diambil dari www.republikaonline.com tanggal 16 September 2003
Biofarmaka adalah sediaan dari bahan alam (nabati maupun hewani) yang mempunyai efek farmakologis, untuk makanan/minuman, suplemen makanan, kosmetik, maupun obat. Rempah-rempah termasuk dalam biofarmaka.
Apa perbedaan antara rempah dan bahan obat herbal?
Sebagai bahan rempah/pangan, tidak dituntut pemenuhan standar/persyaratan tertentu, khususnya menyangkut persyaratan instrinsik. Sebagai obat herbal, dituntut pemenuhan standar/persyaratan tertentu khususnya menyangkut faktor instrinsik. Contohnya, Badan POM telah melakukan sandingan terhadap sekitar 25 hasil penelitian mengenai daun salam dari tempat yang berbeda-beda. Ternyata kandungan senyawa kimianya berbeda-beda. Untuk dapat dijadikan bahan obat herbal, seharusnya tidak boleh ada perbedaan.
Mengapa masih banyak masyarakat maupun pelayanan kesehatan enggan menggunakan obat asli Indonesia. Bila obat herbal tersebut berasal dari luar negeri mereka mudah mengkonsumsinya?
Saya kira tidak, hanya masyarakat tertentu yang demikian. Agar obat herbal dapat diterima masyarakat luas baik dalam negeri maupun luar negeri dan dapat dipakai di pelayanan kesehatan, mau tidak mau obat herbal tersebut harus didukung dengan penelitian. Mestinya masyarakat paham bahwa obat tradisional bermanfaat bagi kesehatan mereka dan mereka harus dapat memilih bahwa suatu produk itu terdaftar atau teregistrasi di Badan POM.
Di samping itu pihak industri juga harus mengembangkan sistem mutu. Misalnya, pembuatan obat tradisional yang baik, mengikuti kaidah-kaidah internasional sehingga mutunya akan lebih terjamin. Mereka juga harus mengembangan penelitian kalau ingin memiliki produk yang kuat.
Sebenarnya apa kriteria obat herbal itu?
Ada tiga kriteria untuk obat herbal yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Ketiga kriteria ini nanti masing-masing akan diberi logo khusus. Jamu adalah sediaan obat herbal Indonesia yang keamanan dan khasiatnya telah diketahui secara turun temurun berdasarkan pengalaman (empiris). Bentuk sediaannya berupa serbuk, pil, cairan, tapel, boreh dan sejenisnya. Obat herbal terstandar adalah sediaan obat herbal Indonesia yang dibuat dari bahan berupa ekstrak atau serbuk yang telah distandarisasi. Status keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan secara ilmiah yaitu uji pra-klinik (menggunakan hewan percobaan). Bentuk sediaan biasanya berupa tablet atau kapsul.
Fitomarmaka adalah sediaan obat herbal Indonesia yang sudah dilakukan uji klinik secara lengkap. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena ada manfaatnya jelas dengan pembuktian.
Di Indonesia sebagian besar produk obat herbal masih berupa jamu, sehingga baru sampai untuk pencegahan, belum bisa mengklaim sebagai obat. Mengapa?
Ya, karena bila mengklaim sebagai obat harus jelas pembuktiannya. Namun demikian, jamu bisa juga diklaim sebagai jamu asal ada keterangan 'secara tradisional dan turun temurun bisa dipakai untuk obat misalnya menurunkan demam'. Bagi obat herbal yang sudah dilakukan uji pra-klinik juga bisa mencantumkan bahwa obat tersebut sudah sampai pada uji pra-klinik.
Di Indonesia sudah berapa jenis fitofarmaka yang terdaftar dan apa kendalanya?
Baru ada empat. antara lain: untuk obat tekanan darah tinggi, obat rematik, diare. Kendalanya disamping biaya, juga harus ada kemauan yang kuat dari pihak industri untuk melakukan research and development. Biaya untuk riset bila dilakukan pemerintah bisa sampai Rp 300 juta per jenis. Sedangkan, kalau dilakukan swasta bisa di atas Rp 500 juta, karena pelaksana uji klinis akan meminta biaya jasa, berbeda halnya bila uji klinis dilakukan di pemerintah, jasa pelaksana tidak dibayar. Kalau teknologi bisa beli mesin yang bagus dan SDM sudah banyak yang terlatih.
Apa yang dilakukan Badan POM untuk mengembangkan obat herbal?
Dalam dua tahun ini (2002-2004) ada sembilan tanaman unggulan yang
dilakukan uji klinis (mengkudu, salam, jambu biji, temulawak, kunyit, cabe jawa, sambiloto, jahe merah, dan jati belanda) oleh Badan POM bekerja sama dengan perguruan tinggi. Ini diharapkan sebagai dorongan bagi pihak industri farmasi. nri
Drs Ruslan Aspan MM
(Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisional Kosmetika dan Produk Komplemen Badan POM)
diambil dari www.republikaonline.com tanggal 16 September 2003
Kamis, 16 Februari 2012
Benefits of Cellery Herbs
Celery has become a common household staple along with carrots, onions and
potatoes. Its crunchy texture and distinctive flavor makes it a popular
addition to salads and many cooked dishes. Although it is available throughout
the year, you will enjoy the best taste and quality of celery during the summer
months when it is in season and locally grown varieties can be easily found in
the markets.
Celery grows to a height of 12 to 16 inches and is composed of leaf-topped stalks arranged in a conical shape that are joined at a common base. It is a biennial vegetable plant that belongs to the Umbelliferae family whose other members include carrots, fennel, parsley and dill. While most people associate celery with its prized stalks, the leaves, roots and seeds can also be used as a food and seasoning as well as a natural medicinal remedy.
Health Benefits
Celery contains vitamin C and several other active compounds that promote health, including phalides, which may help lower cholesterol, and coumarins, that may be useful in cancer prevention.
Rich in Vitamin C
Celery is an excellent source of vitamin C, a vitamin that helps to support the immune system. Vitamin C-rich foods like celery may help reduce cold symptoms or severity of cold symptoms; over 20 scientific studies have concluded that vitamin C is a cold-fighter. Vitamin C also prevents the free radical damage that triggers the inflammatory cascade, and is therefore also associated with reduced severity of inflammatory conditions, such as asthma, osteoarthritis, and rheumatoid arthritis. As free radicals can oxidize cholesterol and lead to plaques that may rupture causing heart attacks or stroke, vitamin C is beneficial to promoting cardiovascular health. Owing to the multitude of vitamin C's health benefits, it is not surprising that research has shown that consumption of vegetables and fruits high in this nutrient is associated with a reduced risk of death from all causes including heart disease, stroke and cancer.
Potential Blood Pressure Benefits
Celery's potential for reducing high blood pressure has long been recognized by Chinese medicine practitioners, and Western science researchers may have recently identified one reason why.
Celery contains active compounds called pthalides, which can help relax the muscles around arteries and allow those vessels to dilate. With more space inside the arteries, the blood can flow at a lower pressure. Pthalides also reduce stress hormones, one of whose effects is to cause blood vessels to constrict. When researchers injected 3-n-butyl phthalide derived from celery into laboratory animals, the animals' blood pressure dropped 12 to 14 percent. Of course, injection of a celery extract into laboratory animals is very far from food consumption by humans, and the researchers participating in this as yet unpublished study cautioned against overindulging in celery until clinical trials could be conducted with food and humans. But the potential helpfulness of this already nourishing food in lowering blood pressure seems likely, and it doesn't hurt that celery ranks as a very good source of potassium and a good source of calcium and magnesium, because increased intake of these minerals has also been associated with reduced blood pressure.
Celery has a reputation among some persons as being a high-sodium vegetable, and blood pressure reduction is usually associated with low-sodium foods. So how do the benefits of phthalides compare with the risks of sodium in celery? There are approximately 100 milligrams of sodium in a full cup of chopped celery—that's about 2 stalk's worth. The U.S. Food and Drug Administration's Daily Value for sodium intake is 2,400 milligrams, the equivalent of about 24 cups, or 48 stalks of celery. Since two stalks of celery only provide about 4% of the sodium DV, most individuals would be able to include 2 or even more stalks of celery in a day's diet while keeping their total sodium intake below the DV by sticking with other low-sodium foods. The exact amount of celery needed to achieve the blood pressure lowering effects found in animals cannot be determined until clinical trials are conducted on humans using the food itself.
Cholesterol-lowering Benefits
In studies of animals specially bred to have high cholesterol, celery's cholesterol-lowering activity has been demonstrated. In eight weeks, aqueous solutions of celery (like celery juice) fed to specially bred high cholesterol animals significantly lowered their total cholesterol by increasing bile acid secretion.
Diuretic Activity
The seeds of celery's wild ancestors, which originated around the Mediterranean, were widely used as a diuretic. Today, we understand how celery, which is rich in both potassium and sodium, the minerals most important for regulating fluid balance, stimulates urine production, thus helping to rid the body of excess fluid.
Promote Optimal Health
Celery contains compounds called coumarins that help prevent free radicals from damaging cells, thus decreasing the mutations that increase the potential for cells to become cancerous. Coumarins also enhance the activity of certain white blood cells, immune defenders that target and eliminate potentially harmful cells, including cancer cells. In addition, compounds in celery called acetylenics have been shown to stop the growth of tumor cells.
Description
Celery is a biennial vegetable (meaning it has a normal life cycle of two years) that belongs to the Umbelliferae family, whose other members include carrots, fennel, parsley and dill. While most people associate celery with its prized stalks, its leaves, roots and seeds are also used as a food and seasoning as well as a natural medicinal remedy.
Celery grows to a height of 12 to 16 inches and is composed of leaf-topped stalks arranged in a conical shape and joined at a common base. The stalks have a crunchy texture and a delicate, but mildly salty, taste. The stalks in the center are called the heart and are the most tender. In the United States, we are used to celery appearing in different shades of green, but in Europe they also enjoy a variety that is white in color. Like white asparagus, this type of celery is grown shaded from direct sunlight, so the production of its chlorophyll content, and hence its green color, are inhibited.
History
The celery that we know today was derived from wild celery. While thought to have its origins in the Mediterranean regions of northern Africa and southern Europe, it was also native to areas extending east to the Himalayas. Wild celery differed a bit from its modern day counterpart in that it featured less stalks and more leaves.
Celery has a long and prestigious history of use, first as a medicine and then later as a food. The initial mention of the medicinal properties of celery leaves dates back to the 9th century B.C., when celery made an appearance in the Odyssey, the famous epic by the Greek poet, Homer. The Ancient Greeks used the leaves as laurels to decorate their renowned athletes, while the ancient Romans used it as a seasoning, a tradition that has carried through the centuries.
It was not until the Middle Ages that celery's use expanded beyond medicine and seasoning into consideration as a food. And while today, for most people thoughts of celery conjure up images of dips and crudité platters, eating this delicious crunchy vegetable raw did not really become popular until the 18th century in Europe. Celery was introduced in the United States early in the 19th century.
How to Select and Store
Choose celery that looks crisp and snaps easily when pulled apart. It should be relatively tight and compact and not have stalks that splay out. The leaves should be pale to bright green in color and free from yellow or brown patches. Sometimes celery can have a condition called "blackheart," which is caused by insects. To check for damage, separate the stalks and look for brown or black discoloration. In addition, evaluate the celery to ensure that it does not have a seedstem—the presence of a round stem in the place of the smaller tender stalks that should reside in the center of the celery. Celery with seedstems are often more bitter in flavor.
To store celery, place it in a sealed container or wrap it in a plastic bag or damp cloth and store it in the refrigerator. If you are storing cut or peeled celery, ensure that it is dry and free from water residue, as this can drain some of its nutrients. Freezing will make celery wilt and should be avoided unless you will be using it in a future cooked recipe.
How to Enjoy
For some of our favorite recipes, click Recipes.
Tips for preparing celery:
To clean celery, cut off the base and leaves, then wash the leaves and stalks under running water. Cut the stalks into pieces of desired length. If the outside of the celery stalk has fibrous strings, remove them by making a thin cut into one end of the stalk and peeling away the fibers. Be sure to use the leaves—they contain the most vitamin C, calcium and potassium—but use them within a day or two as they do not store very well.
Celery should not be kept at room temperature for too long since, because of its high water content, it has a tendency to wilt quickly. If you have celery that has wilted, sprinkle it with a little water and place it in the refrigerator for several hours where it will regain its crispness.
A few quick serving ideas:
Add chopped celery to your favorite tuna fish or chicken salad recipe.
Enjoy the delicious tradition of eating peanut butter on celery stalks.
Use celery leaves in salads.
Braise chopped celery, radicchio and onions and serve topped with walnuts and your favorite soft cheese.
Next time you are making fresh squeezed carrot juice give it a unique taste dimension by adding some celery to it.
Add celery leaves and sliced celery stalks to soups, stews, casseroles, and healthy stir fries.
Safety
Celery and Pesticide Residues
Virtually all municipal drinking water in the United States contains pesticide residues, and with the exception of organic foods, so do the majority of foods in the U.S. food supply. Even though pesticides are present in food at very small trace levels, their negative impact on health is well documented. The liver's ability to process other toxins, the cells' ability to produce energy, and the nerves' ability to send messages can all be compromised by pesticide exposure. According to the Environmental Working Group's 2006 report "Shopper's Guide to Pesticides in Produce," celery is among the 12 foods on which pesticide residues have been most frequently found. Therefore, individuals wanting to avoid pesticide-associated health risks may want to avoid consumption of celery unless it is grown organically.
Nutritional Profile
Celery is an excellent source of vitamin C. It is a very good source of dietary fiber, potassium, folate, molybdenum, manganese and vitamin B6. Celery is also a good source of calcium, vitamin B1, vitamin B2, magnesium, vitamin A, phosphorous and iron.
Celery also contains approximately 35 milligrams of sodium per stalk, so salt-sensitive individuals can enjoy celery, but should keep track of this amount when monitoring daily sodium intake.
For an in-depth nutritional profile click here: Celery.
In-Depth Nutritional Profile
In addition to the nutrients highlighted in our ratings chart, an in-depth nutritional profile for Celery is also available. This profile includes information on a full array of nutrients, including carbohydrates, sugar, soluble and insoluble fiber, sodium, vitamins, minerals, fatty acids, amino acids and more.
Celery grows to a height of 12 to 16 inches and is composed of leaf-topped stalks arranged in a conical shape that are joined at a common base. It is a biennial vegetable plant that belongs to the Umbelliferae family whose other members include carrots, fennel, parsley and dill. While most people associate celery with its prized stalks, the leaves, roots and seeds can also be used as a food and seasoning as well as a natural medicinal remedy.
Health Benefits
Celery contains vitamin C and several other active compounds that promote health, including phalides, which may help lower cholesterol, and coumarins, that may be useful in cancer prevention.
Rich in Vitamin C
Celery is an excellent source of vitamin C, a vitamin that helps to support the immune system. Vitamin C-rich foods like celery may help reduce cold symptoms or severity of cold symptoms; over 20 scientific studies have concluded that vitamin C is a cold-fighter. Vitamin C also prevents the free radical damage that triggers the inflammatory cascade, and is therefore also associated with reduced severity of inflammatory conditions, such as asthma, osteoarthritis, and rheumatoid arthritis. As free radicals can oxidize cholesterol and lead to plaques that may rupture causing heart attacks or stroke, vitamin C is beneficial to promoting cardiovascular health. Owing to the multitude of vitamin C's health benefits, it is not surprising that research has shown that consumption of vegetables and fruits high in this nutrient is associated with a reduced risk of death from all causes including heart disease, stroke and cancer.
Potential Blood Pressure Benefits
Celery's potential for reducing high blood pressure has long been recognized by Chinese medicine practitioners, and Western science researchers may have recently identified one reason why.
Celery contains active compounds called pthalides, which can help relax the muscles around arteries and allow those vessels to dilate. With more space inside the arteries, the blood can flow at a lower pressure. Pthalides also reduce stress hormones, one of whose effects is to cause blood vessels to constrict. When researchers injected 3-n-butyl phthalide derived from celery into laboratory animals, the animals' blood pressure dropped 12 to 14 percent. Of course, injection of a celery extract into laboratory animals is very far from food consumption by humans, and the researchers participating in this as yet unpublished study cautioned against overindulging in celery until clinical trials could be conducted with food and humans. But the potential helpfulness of this already nourishing food in lowering blood pressure seems likely, and it doesn't hurt that celery ranks as a very good source of potassium and a good source of calcium and magnesium, because increased intake of these minerals has also been associated with reduced blood pressure.
Celery has a reputation among some persons as being a high-sodium vegetable, and blood pressure reduction is usually associated with low-sodium foods. So how do the benefits of phthalides compare with the risks of sodium in celery? There are approximately 100 milligrams of sodium in a full cup of chopped celery—that's about 2 stalk's worth. The U.S. Food and Drug Administration's Daily Value for sodium intake is 2,400 milligrams, the equivalent of about 24 cups, or 48 stalks of celery. Since two stalks of celery only provide about 4% of the sodium DV, most individuals would be able to include 2 or even more stalks of celery in a day's diet while keeping their total sodium intake below the DV by sticking with other low-sodium foods. The exact amount of celery needed to achieve the blood pressure lowering effects found in animals cannot be determined until clinical trials are conducted on humans using the food itself.
Cholesterol-lowering Benefits
In studies of animals specially bred to have high cholesterol, celery's cholesterol-lowering activity has been demonstrated. In eight weeks, aqueous solutions of celery (like celery juice) fed to specially bred high cholesterol animals significantly lowered their total cholesterol by increasing bile acid secretion.
Diuretic Activity
The seeds of celery's wild ancestors, which originated around the Mediterranean, were widely used as a diuretic. Today, we understand how celery, which is rich in both potassium and sodium, the minerals most important for regulating fluid balance, stimulates urine production, thus helping to rid the body of excess fluid.
Promote Optimal Health
Celery contains compounds called coumarins that help prevent free radicals from damaging cells, thus decreasing the mutations that increase the potential for cells to become cancerous. Coumarins also enhance the activity of certain white blood cells, immune defenders that target and eliminate potentially harmful cells, including cancer cells. In addition, compounds in celery called acetylenics have been shown to stop the growth of tumor cells.
Description
Celery is a biennial vegetable (meaning it has a normal life cycle of two years) that belongs to the Umbelliferae family, whose other members include carrots, fennel, parsley and dill. While most people associate celery with its prized stalks, its leaves, roots and seeds are also used as a food and seasoning as well as a natural medicinal remedy.
Celery grows to a height of 12 to 16 inches and is composed of leaf-topped stalks arranged in a conical shape and joined at a common base. The stalks have a crunchy texture and a delicate, but mildly salty, taste. The stalks in the center are called the heart and are the most tender. In the United States, we are used to celery appearing in different shades of green, but in Europe they also enjoy a variety that is white in color. Like white asparagus, this type of celery is grown shaded from direct sunlight, so the production of its chlorophyll content, and hence its green color, are inhibited.
History
The celery that we know today was derived from wild celery. While thought to have its origins in the Mediterranean regions of northern Africa and southern Europe, it was also native to areas extending east to the Himalayas. Wild celery differed a bit from its modern day counterpart in that it featured less stalks and more leaves.
Celery has a long and prestigious history of use, first as a medicine and then later as a food. The initial mention of the medicinal properties of celery leaves dates back to the 9th century B.C., when celery made an appearance in the Odyssey, the famous epic by the Greek poet, Homer. The Ancient Greeks used the leaves as laurels to decorate their renowned athletes, while the ancient Romans used it as a seasoning, a tradition that has carried through the centuries.
It was not until the Middle Ages that celery's use expanded beyond medicine and seasoning into consideration as a food. And while today, for most people thoughts of celery conjure up images of dips and crudité platters, eating this delicious crunchy vegetable raw did not really become popular until the 18th century in Europe. Celery was introduced in the United States early in the 19th century.
How to Select and Store
Choose celery that looks crisp and snaps easily when pulled apart. It should be relatively tight and compact and not have stalks that splay out. The leaves should be pale to bright green in color and free from yellow or brown patches. Sometimes celery can have a condition called "blackheart," which is caused by insects. To check for damage, separate the stalks and look for brown or black discoloration. In addition, evaluate the celery to ensure that it does not have a seedstem—the presence of a round stem in the place of the smaller tender stalks that should reside in the center of the celery. Celery with seedstems are often more bitter in flavor.
To store celery, place it in a sealed container or wrap it in a plastic bag or damp cloth and store it in the refrigerator. If you are storing cut or peeled celery, ensure that it is dry and free from water residue, as this can drain some of its nutrients. Freezing will make celery wilt and should be avoided unless you will be using it in a future cooked recipe.
How to Enjoy
For some of our favorite recipes, click Recipes.
Tips for preparing celery:
To clean celery, cut off the base and leaves, then wash the leaves and stalks under running water. Cut the stalks into pieces of desired length. If the outside of the celery stalk has fibrous strings, remove them by making a thin cut into one end of the stalk and peeling away the fibers. Be sure to use the leaves—they contain the most vitamin C, calcium and potassium—but use them within a day or two as they do not store very well.
Celery should not be kept at room temperature for too long since, because of its high water content, it has a tendency to wilt quickly. If you have celery that has wilted, sprinkle it with a little water and place it in the refrigerator for several hours where it will regain its crispness.
A few quick serving ideas:
Add chopped celery to your favorite tuna fish or chicken salad recipe.
Enjoy the delicious tradition of eating peanut butter on celery stalks.
Use celery leaves in salads.
Braise chopped celery, radicchio and onions and serve topped with walnuts and your favorite soft cheese.
Next time you are making fresh squeezed carrot juice give it a unique taste dimension by adding some celery to it.
Add celery leaves and sliced celery stalks to soups, stews, casseroles, and healthy stir fries.
Safety
Celery and Pesticide Residues
Virtually all municipal drinking water in the United States contains pesticide residues, and with the exception of organic foods, so do the majority of foods in the U.S. food supply. Even though pesticides are present in food at very small trace levels, their negative impact on health is well documented. The liver's ability to process other toxins, the cells' ability to produce energy, and the nerves' ability to send messages can all be compromised by pesticide exposure. According to the Environmental Working Group's 2006 report "Shopper's Guide to Pesticides in Produce," celery is among the 12 foods on which pesticide residues have been most frequently found. Therefore, individuals wanting to avoid pesticide-associated health risks may want to avoid consumption of celery unless it is grown organically.
Nutritional Profile
Celery is an excellent source of vitamin C. It is a very good source of dietary fiber, potassium, folate, molybdenum, manganese and vitamin B6. Celery is also a good source of calcium, vitamin B1, vitamin B2, magnesium, vitamin A, phosphorous and iron.
Celery also contains approximately 35 milligrams of sodium per stalk, so salt-sensitive individuals can enjoy celery, but should keep track of this amount when monitoring daily sodium intake.
For an in-depth nutritional profile click here: Celery.
In-Depth Nutritional Profile
In addition to the nutrients highlighted in our ratings chart, an in-depth nutritional profile for Celery is also available. This profile includes information on a full array of nutrients, including carbohydrates, sugar, soluble and insoluble fiber, sodium, vitamins, minerals, fatty acids, amino acids and more.
References
Ensminger AH, Esminger M. K. J. e. al. Food for Health: A Nutrition Encyclopedia. Clovis, California: Pegus Press; 1986. PMID:15210.
Finkelstein E, Afek U, Gross E, et al. An outbreak of phytophotodermatitis due to celery. Int J Dermatol 1994 Feb;33(2):116-8 1994.
Khaw KT, Bingham S, Welch A, et al. Relation between plasma ascorbic acid and mortality in men and women in EPIC-Norfolk prospective study: a prospective population study. European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition. Lancet. 2001 Mar 3;357(9257):657-63 2001.
Kurl S, Tuomainen TP, Laukkanen JA et al. Plasma vitamin C modifies the association between hypertension and risk of stroke. Stroke 2002 Jun;33(6):1568-73 2002.
Tsi D, Tan BK. The mechanism underlying the hypocholesterolaemic activity of aqueous celery extract, its butanol and aqueous fractions in genetically hypercholesterolaemic RICO rats. Life Sci 2000 Jan 14;66(8):755-67 2000.
Wood, Rebecca. The Whole Foods Encyclopedia. New York, NY: Prentice-Hall Press; 1988. PMID:15220
Ensminger AH, Esminger M. K. J. e. al. Food for Health: A Nutrition Encyclopedia. Clovis, California: Pegus Press; 1986. PMID:15210.
Finkelstein E, Afek U, Gross E, et al. An outbreak of phytophotodermatitis due to celery. Int J Dermatol 1994 Feb;33(2):116-8 1994.
Khaw KT, Bingham S, Welch A, et al. Relation between plasma ascorbic acid and mortality in men and women in EPIC-Norfolk prospective study: a prospective population study. European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition. Lancet. 2001 Mar 3;357(9257):657-63 2001.
Kurl S, Tuomainen TP, Laukkanen JA et al. Plasma vitamin C modifies the association between hypertension and risk of stroke. Stroke 2002 Jun;33(6):1568-73 2002.
Tsi D, Tan BK. The mechanism underlying the hypocholesterolaemic activity of aqueous celery extract, its butanol and aqueous fractions in genetically hypercholesterolaemic RICO rats. Life Sci 2000 Jan 14;66(8):755-67 2000.
Wood, Rebecca. The Whole Foods Encyclopedia. New York, NY: Prentice-Hall Press; 1988. PMID:15220
Now Present Cellery Capsule and
Cellery with Green Tea Instant
Price : Rp. 50.000 or $ 5.0
Call : +6258245226785
or select this
Cellery Instant with Green Tea Leaves
Price : Rp. 30.000 or $ 3.0
Please Call Me Now :+6585245226785
Rabu, 25 Januari 2012
21 Jenis (Tanaman) Herbal Berkhasiat Obat
1. Lempuyang Emprit = Zingiber Amaricans
Kandungan senyawa :
Minyak Atsiri = Sekuiterpenketon (u/ turunkan panas)
umumnya yg digunakan adl : rimpangnya (warnanya putih kekuningan, rasanya pahit)
2. Kunyit = Curcuma Longa
Kandungan senyawa :
Minyak Atsiri, Curcumin, turmeron & Zingiberen yg berfgs sbg anti-bakteri, anti-oksidan & anti-inflamasi (anti-radang). Selain sbg penurun panas, campuran ini jg dpt meningkatkan daya tahan tubuh.
Umumnya yg digunakan adl : rimpangnya, (warnanya pranye)
3. Sambiloto = Andrographis Paniculata
Seluruh bagian tanamannya dpt digunakan (daun & batang)
Kandungan senyawa : Andrografolid Lactones (zat pahit), diterpene, glucosides & flavonoid yg dpt menurunkan panas, mineral (K, Ca, Na) Andrografolid : u menurunkan gula darah
Penelitian di Thailand bhw : 6 gr sambiloto sama efektifnya dgn parasetamol.
Khasiat : Atasi kencing-manis, meningkatkan kekebalan tubuh, atasi hepatitis, disentri, flu, demam, radang amandel, radang ginjal, paru, bronchitis, atasi kanker, TBC, hypertensi, kusta, keracunan, kencing nanah, kencing manis.
4. Pegagan = Centella Asiatica L. = Daun Kaki Kuda
Tumbuh liar dipadang rumput, tepi selokan, sawah atau ditanam sbg penutup tanah, sbg tanaman sayur, merayap menutupi tanah, daun warna hijau berbentuk spt kipas ginjal.
Hidup ditanah yg agak lembab, cukup sinar matahari atau agak terlindung.
Dapat ditemukan didataran rendah sampai daerah dgn ketinggian 2.5 m dpl.
Kandungan senyawa :
Triterpenoid, saponin, Hydrocotyline & Vellarine.
Kandungan Kimia :
Asam Asiatat, B-Karioneta, B-Kariofilen, B-Elemena, B-Farnesen, B-Sitosterol, Brahminosida, Asam Brahmat, Brahmosida, Asam Sentelat, Asam Sentolat, Asam Elaiodat, Iso-Tankunisida.
Manfaat : untuk penurun panas, re-vitalisasi tubuh & pembuluh darah, memperkuat struktur jaringan tubuh, radang hati disertai kuning.
Pegagan bersifat menyejukkan/mendinginkan, menambah tenaga & menimbulkan selera makan.
Digunakan u memperlancar aliran darah ke otak (makanan otak), shg tajam berfikir & meningkatkan saraf memory otak.
Daun :
Re-Vitalisasi sel & pembuluh darah, anti-infeksi, anti-bakteri, menurunkan panas & demam, diuretic, pembengkakan hati, meningkatkan kesuburan wanita, mengurangi gejala asma, mengobati hipotensi.
Herba :
Radang hati disertai kuning, campak, demam, sakit tenggorokan, asma, bronchitis, radang pleura, radang mata merah, keputihan, infeksi, batu saluran kencing, tekanan darah tinggi/hipertensi, rheumatism, pendarahan (muntah darah, batuk darah, mimisan, kencing darah), wasir, sakit perut, disentri, cacingan, tdk nafsu makan, lepra, TBC, keracunan makanan (jengkol, udang, kepiting), keracunan bhn kimia/obat2an.
5. Temulawak = Curcuma Xanthorhiza Roxb
Tumbuh liar dihutan jati & padang alang2, biasa terdpt ditempat terbuka yg terkena sinar matahari & tumbuh didataran rendah sampai dataran tinggi. Hasil maximal baiknya ditanam pd ketinggian 200-600 m dpl.
Penampilan mirip temu putih, hanya warna bunga & rimpangnya berbeda.
Bunga temulawak berwarna putih kuning atau kuning muda, sdgkan temu-putih berwarna putih dgn tepi merah. Rimpang temulawak berwarna jingga kecoklatan, sdgkan rimpang bagian dalam temu-putih berwarna kuning muda. Temulawak memiliki zat aktif : Germacrene, Xanthor-rhizol, Alpha-Betha-Curcumena, dll.
Manfaat :
Sbg anti-inflamasi (anti-radang), anti-biotik, meningkatkan produksi & sekresi empedu, segarkan badan.
Sejak dulu digunakan sbg : obat penurun panas, merangsang nafsu makan, mengobati sakit kuning, diare, maag, perut kembung & pegal2.
Kegunaan :
Menurunkan kolesterol, panas badan, sakit kuning, radang ginjal, radang kronis, kandung empedu, mencegah peny. Hati, menghilangkan rasa nyeri, menyegarkan badan, perut kembung, sembelit, diare, mengurangi rasa nyeri sendi, pegal linu, rematik, menambah ASI, memulihkan kesehatan stl melahirkan, haid tdk lancer, wasir, tonikum & anti-bakteri.
6. Temu Putih = Curcuma Zedoaria
Tumbuh ditanah yg gembur, subur, mengandung bhn organic yg tinggi, drainase yg baik.
Temu putih dpt tumbuh pd ketinggian 250-1000 m dpl.
Kandungan Kimia :
Ribosome Inacting Protein (RIP), Zat Anti-oksidan.
Kegunaan :
Nyeri waktu haid, tdk datang haid, pembersih darah stl melahirkan, memulihkan gangguan pencernaan makanan, sakit perut, rasa penuh & sakit didada, limpa, anti-kanker, atasi kista, masalah pada perut.
7. Bawang Merah = Allium Cepa L.
Kandungan senyawa :
Minyak Atsiri, Sikloaliin, Metilaliin, Kaemferol, Kuersetin & Floroglusin.
8. Daun Kembang Sepatu = Hibiscus Rosa Sinensis
Selain daun kembang sepatu, dpt jg digunakan daun sirih atau daun kapuk.
Kembang sepatu mengandung : Flavonoida, Saponin & Polifenol.
Daun Sirih mengandung : Flavonoida, Saponin, Polifenol & Minyak Atsiri.
Daun Kapuk mengandung : Flavonoida, Saponin & Tanin.
9. Bawang Putih = Garlic = Allium Sativum
Terbuat dr suing bwg-pth pilihan mjd serbuk kering bwg-pth.
Khasiat :
Menurunkan kadar lemak darah shg mengurangi resiko peny jantung, menurunkan hypertensi, meningkatkan daya tahan tubuh, menormalkan sirkulasi & kolesterol darah, menormalkan penglihatan rabun dekat, memperbaiki sys pencernaan, mengurangi gejala rematik, atasi kesemutan, de-toxifikasi racun & efektif sbg anti-biotik, anti-bakteri, anti-jamur & keputihan.
Kontra :
Tdk dianjurkan untuk darah rendah & pasien alergi terhadap bawang putih & tukak lambung.
Side efek : gangguan lambung
Kolesterol : Salah satu jenis lemak yg dibuat di hati & ditemukan pada makanan hewani.
Kolesterol diperlukan oleh fungsi tubuh yg penting untuk : Membangun dinding sel, lindungi jaringan saraf, membuat hormone.
Bila kelebihan kolesterol akan berdampak negative.
Type kolesterol :
k. Baik = HDL = High Density Lipo-protein : HDL dlm jml tinggi diperlukan u angkut LDL dr darah -> back ke hati u dihancurkan
k. Jahat/Buruk = LDL = Low Density Lipo-protein :Kadar LDL yg tinggi sebabkan : hypertensi, jantung, stroke, gagal ginjal.
Kolesterol sebabkan terbentuknya plak pd dinding pembuluh darah shg pembuluh drh mjd sempit, sp supply Oksigen u jar tbh macet.
Bila pembuluh drh yg macet pd : jantung -> serangan jantung, pd otak -> Stroke, pd ginjal -> gagal ginjal.
Dr. Yu-Yan Yeh : “Garlic include seny = Allir-Sulfur u hambat bio-sintesis kolesterol did lm hati.
Kandungan kimia :
Minyak atsiri, senyawa fosfor, tuberkulodis, dsb.
10. Meniran = Phyllanthus Ninuri L.
Tinggi tanaman hingga 1 m, tumbuh liar, daun berbentuk bulat tergolong daun majemuk bersirip genap.
Seluruh bagian tanaman ini dpt digunakan.
Kandungan senyawa :
Lignan, Flavonoid, Alkaloid, Triterpenoid, Tanin, Vitamin-C, dll.
Manfaat :
Menurunkan panas & meningkatkan daya tahan tubuh.
11. Lidah-Buaya = Aloe-Vera L.
Tumbuh liar ditempat berudara panas tapi sering ditanam di pot & pekarangan rumah sbg tanaman hias.
Kandungan kimia :
Aloin, Barbaloin, Aloe-Emolin, Aleonin, Aloesin
Kegunaan :
Anti-biotik, penghilang rasa sakit, merangsang pertumbuhan sel baru pd kulit, cacingan, susah buang air kecil, sembelit, batuk, diabetes, radang tenggorokan, menurunkan kolesterol.
12. Bee-Pollen
Bee-pollen adl : Serbuk sari bunga jantan yg diambil oleh lebah & digunakan sbg makanan pokok dari seluruh koloni lebah madu. (tepung sari bunga)
Kandungan kimia :
Protein (asam amino bebas), Vitamin (B-Complex & Asam Folat, Vit A-C-D-E), Beta-carotene, selenium, Lesitin, karbohidrat, mineral.
Asam Glutamat : zat aktif u sel jar. Otak, nafsu-makan pd anak, atasi epilepsy.
Kegunaan :
Meningkatkan daya tahan/kekebalan tubuh, memperlambat proses penuaan & menghaluskan muka, menurunkan kolesterol, memperlancar fungsi pencernaan, mengobati asma, meningkatkan kesuburan bagi pria & wanita, lancarkan peredaran darah merah & meningkatkan kadar Oksigen hingga 25% lebih banyak u konsentrasi & daya piker tajam dari anak2 s/d dewasa, tingkatkan stamina & vitalitas tubuh, turunkan kolesterol, atasi asma.
13. Bangle = Zingiber Purpureum Roxb. Purple-Ginger.
Tumbuh pd daerah yg cukup kena sinar matahari
Khasiat :
Mengurangi lemak tubuh -> mengurangi berat badan, pelangsing.
Sembuhkan cacingan, demam, masuk-angin, gangguan mata, pusing krn deman, nyeri sendi, perut mulas, sakit kuning, peluruh kentut/Karminatif, peluruh dahak/Expectorant, pembersih darah.
Dalam rimpang bangle terdpt zat aktif u tingkatkan aktifitasenzim Lipase u hidrolisis lemak tubuh. Bangle tidak disarankan u ibu hamil. Khasiat bangle dgn herbail lain = ok
Kandungan kimia :
Minyak atsiri (sineol, tinen), dammar, pati, flavonoid & tanin
14. Celery = daun Seledri = Apium Graviolen L.
Yang digunakan : daun & batangnya.
Daun & batang seledri paling byk simpan kandungan aktif yg berkhasiat.
Akar seledri dihindari karma terdapat racun.
Khasiat :
Ringankan gejala hypertensi ringan, normalkan kadar asam urat dlm darah, me(-)i rasa sakit pd sendi akibat asam-urat, lancarkan sirkulasi darah, turunkan tekanan darah, normalkan gula darah, jaga kesehatan jantung, tulang, sendi & atasi infeksi saluran kencing & menetralisir efek degeneratif & radikal bebas.
Kandungan Kimia :
glikosida, Apiin, Isoquersetin, Umbilliferon, Mannite, Inosite, Asparagin, Glutamin, Cholin, Linamaros, Pro-vitamin A, Vit-B, Vit-C.
pada daun : Minyak Atsiri, protein, Kalsium, garam fosfat.
Tidak disarankan : Penderita darah rendah
15. Kumis-Kucing = Orthosiphon Aristatus O.
Khasiat daun :
Meluruhkan batu urin/batu-ginjal, menurunkan kadar gula darah, rematik, anti-radang & melancarkan air seni
Kandungan Kimia :
Senyawa Kalium, glukosida, minyak atsiri, sapotonin, ortosifonida & flavon (sinansetin, cupatorin, scutellarein, tetra-metil eter, salvigenin, rhamnazin)
Kandungan Saponin & Tannin pd daun bisa jg mengobati keputihan. Kandungan ortosifonin & garam Kalium (terutama pd daunnya) adl: komponen utama yg membantu larutnya asam urat, fosfat & oksalat dlm tubuh manusia (terutama dlm kandung kemih, empedu maupun ginjal) shg dpt cegah endapan batu ginjal
16. Mahkota Dewa = Phaleria Macrocarpa
Khasiat buah :
Anti-kanker, anti-tumor, anti-disentri, anti-insekta, hepato-toxic, atasi diabetes, hypertensi, hepatitis, rematik & asam urat
Buahnya mengandung : :
Saponin, Alkaloid, Polifenol, Plavonoid, Lignan, Minyak Atsiri, Sterol (yg berkhasiat sembuhkan berbagai penyakit kronis spt kanker, diabetes mellitus dsb)
Kasiat daun :
Atasi TBC, radang mata & tenggorokan.
Wanita hamil & bayi dilarang konsumsi mahkota-dewa karma kandungan kimianya sangat aktif.
Kelebihan dosis : pusing & mual
17. Paria = Momordica Charantia L.
Khasiat :
Atasi batuk, radang tenggorokan, demam, malaria, nafsu-makan, sariawan. Diabetess, cacingan, disentri.
18. Sambung-Nyawa = Gynura Procumbens L.
Kasiat :
Anti-bakteri, obati jantung, radang tenggorokan, batuk, sinusitis, polip, amandel.
19. Daun Sendok = Plantago Mayor
Khasiat :
Atasi gangguan pd saluran kencing, batu-empedu & prostate (Sembuhkan radang saluran kencing, radang prostate)
20. Mengkudu = Noni
Khasiat buah :
Meningkatkan vitalitas tubuh, menurunkan gula darah & tekanan darah, anti-septic, anti-radang, penyembuhan liver, stroke.
21. Keladi Tikus = Rodent-Tuber = Typhonium Flagelliforme
Khasiat :
Hentikan & mengatasi kanker serta penyakit berat lain seperti hepatitis.
Tidak dianjurkan untuk direbus, hanya akan mengurangi khasiatnya saja.
Sumber : Kumpulan Artikel dari www.lizaherbal.com
Kandungan senyawa :
Minyak Atsiri = Sekuiterpenketon (u/ turunkan panas)
umumnya yg digunakan adl : rimpangnya (warnanya putih kekuningan, rasanya pahit)
2. Kunyit = Curcuma Longa
Kandungan senyawa :
Minyak Atsiri, Curcumin, turmeron & Zingiberen yg berfgs sbg anti-bakteri, anti-oksidan & anti-inflamasi (anti-radang). Selain sbg penurun panas, campuran ini jg dpt meningkatkan daya tahan tubuh.
Umumnya yg digunakan adl : rimpangnya, (warnanya pranye)
3. Sambiloto = Andrographis Paniculata
Seluruh bagian tanamannya dpt digunakan (daun & batang)
Kandungan senyawa : Andrografolid Lactones (zat pahit), diterpene, glucosides & flavonoid yg dpt menurunkan panas, mineral (K, Ca, Na) Andrografolid : u menurunkan gula darah
Penelitian di Thailand bhw : 6 gr sambiloto sama efektifnya dgn parasetamol.
Khasiat : Atasi kencing-manis, meningkatkan kekebalan tubuh, atasi hepatitis, disentri, flu, demam, radang amandel, radang ginjal, paru, bronchitis, atasi kanker, TBC, hypertensi, kusta, keracunan, kencing nanah, kencing manis.
4. Pegagan = Centella Asiatica L. = Daun Kaki Kuda
Tumbuh liar dipadang rumput, tepi selokan, sawah atau ditanam sbg penutup tanah, sbg tanaman sayur, merayap menutupi tanah, daun warna hijau berbentuk spt kipas ginjal.
Hidup ditanah yg agak lembab, cukup sinar matahari atau agak terlindung.
Dapat ditemukan didataran rendah sampai daerah dgn ketinggian 2.5 m dpl.
Kandungan senyawa :
Triterpenoid, saponin, Hydrocotyline & Vellarine.
Kandungan Kimia :
Asam Asiatat, B-Karioneta, B-Kariofilen, B-Elemena, B-Farnesen, B-Sitosterol, Brahminosida, Asam Brahmat, Brahmosida, Asam Sentelat, Asam Sentolat, Asam Elaiodat, Iso-Tankunisida.
Manfaat : untuk penurun panas, re-vitalisasi tubuh & pembuluh darah, memperkuat struktur jaringan tubuh, radang hati disertai kuning.
Pegagan bersifat menyejukkan/mendinginkan, menambah tenaga & menimbulkan selera makan.
Digunakan u memperlancar aliran darah ke otak (makanan otak), shg tajam berfikir & meningkatkan saraf memory otak.
Daun :
Re-Vitalisasi sel & pembuluh darah, anti-infeksi, anti-bakteri, menurunkan panas & demam, diuretic, pembengkakan hati, meningkatkan kesuburan wanita, mengurangi gejala asma, mengobati hipotensi.
Herba :
Radang hati disertai kuning, campak, demam, sakit tenggorokan, asma, bronchitis, radang pleura, radang mata merah, keputihan, infeksi, batu saluran kencing, tekanan darah tinggi/hipertensi, rheumatism, pendarahan (muntah darah, batuk darah, mimisan, kencing darah), wasir, sakit perut, disentri, cacingan, tdk nafsu makan, lepra, TBC, keracunan makanan (jengkol, udang, kepiting), keracunan bhn kimia/obat2an.
5. Temulawak = Curcuma Xanthorhiza Roxb
Tumbuh liar dihutan jati & padang alang2, biasa terdpt ditempat terbuka yg terkena sinar matahari & tumbuh didataran rendah sampai dataran tinggi. Hasil maximal baiknya ditanam pd ketinggian 200-600 m dpl.
Penampilan mirip temu putih, hanya warna bunga & rimpangnya berbeda.
Bunga temulawak berwarna putih kuning atau kuning muda, sdgkan temu-putih berwarna putih dgn tepi merah. Rimpang temulawak berwarna jingga kecoklatan, sdgkan rimpang bagian dalam temu-putih berwarna kuning muda. Temulawak memiliki zat aktif : Germacrene, Xanthor-rhizol, Alpha-Betha-Curcumena, dll.
Manfaat :
Sbg anti-inflamasi (anti-radang), anti-biotik, meningkatkan produksi & sekresi empedu, segarkan badan.
Sejak dulu digunakan sbg : obat penurun panas, merangsang nafsu makan, mengobati sakit kuning, diare, maag, perut kembung & pegal2.
Kegunaan :
Menurunkan kolesterol, panas badan, sakit kuning, radang ginjal, radang kronis, kandung empedu, mencegah peny. Hati, menghilangkan rasa nyeri, menyegarkan badan, perut kembung, sembelit, diare, mengurangi rasa nyeri sendi, pegal linu, rematik, menambah ASI, memulihkan kesehatan stl melahirkan, haid tdk lancer, wasir, tonikum & anti-bakteri.
6. Temu Putih = Curcuma Zedoaria
Tumbuh ditanah yg gembur, subur, mengandung bhn organic yg tinggi, drainase yg baik.
Temu putih dpt tumbuh pd ketinggian 250-1000 m dpl.
Kandungan Kimia :
Ribosome Inacting Protein (RIP), Zat Anti-oksidan.
Kegunaan :
Nyeri waktu haid, tdk datang haid, pembersih darah stl melahirkan, memulihkan gangguan pencernaan makanan, sakit perut, rasa penuh & sakit didada, limpa, anti-kanker, atasi kista, masalah pada perut.
7. Bawang Merah = Allium Cepa L.
Kandungan senyawa :
Minyak Atsiri, Sikloaliin, Metilaliin, Kaemferol, Kuersetin & Floroglusin.
8. Daun Kembang Sepatu = Hibiscus Rosa Sinensis
Selain daun kembang sepatu, dpt jg digunakan daun sirih atau daun kapuk.
Kembang sepatu mengandung : Flavonoida, Saponin & Polifenol.
Daun Sirih mengandung : Flavonoida, Saponin, Polifenol & Minyak Atsiri.
Daun Kapuk mengandung : Flavonoida, Saponin & Tanin.
9. Bawang Putih = Garlic = Allium Sativum
Terbuat dr suing bwg-pth pilihan mjd serbuk kering bwg-pth.
Khasiat :
Menurunkan kadar lemak darah shg mengurangi resiko peny jantung, menurunkan hypertensi, meningkatkan daya tahan tubuh, menormalkan sirkulasi & kolesterol darah, menormalkan penglihatan rabun dekat, memperbaiki sys pencernaan, mengurangi gejala rematik, atasi kesemutan, de-toxifikasi racun & efektif sbg anti-biotik, anti-bakteri, anti-jamur & keputihan.
Kontra :
Tdk dianjurkan untuk darah rendah & pasien alergi terhadap bawang putih & tukak lambung.
Side efek : gangguan lambung
Kolesterol : Salah satu jenis lemak yg dibuat di hati & ditemukan pada makanan hewani.
Kolesterol diperlukan oleh fungsi tubuh yg penting untuk : Membangun dinding sel, lindungi jaringan saraf, membuat hormone.
Bila kelebihan kolesterol akan berdampak negative.
Type kolesterol :
k. Baik = HDL = High Density Lipo-protein : HDL dlm jml tinggi diperlukan u angkut LDL dr darah -> back ke hati u dihancurkan
k. Jahat/Buruk = LDL = Low Density Lipo-protein :Kadar LDL yg tinggi sebabkan : hypertensi, jantung, stroke, gagal ginjal.
Kolesterol sebabkan terbentuknya plak pd dinding pembuluh darah shg pembuluh drh mjd sempit, sp supply Oksigen u jar tbh macet.
Bila pembuluh drh yg macet pd : jantung -> serangan jantung, pd otak -> Stroke, pd ginjal -> gagal ginjal.
Dr. Yu-Yan Yeh : “Garlic include seny = Allir-Sulfur u hambat bio-sintesis kolesterol did lm hati.
Kandungan kimia :
Minyak atsiri, senyawa fosfor, tuberkulodis, dsb.
10. Meniran = Phyllanthus Ninuri L.
Tinggi tanaman hingga 1 m, tumbuh liar, daun berbentuk bulat tergolong daun majemuk bersirip genap.
Seluruh bagian tanaman ini dpt digunakan.
Kandungan senyawa :
Lignan, Flavonoid, Alkaloid, Triterpenoid, Tanin, Vitamin-C, dll.
Manfaat :
Menurunkan panas & meningkatkan daya tahan tubuh.
11. Lidah-Buaya = Aloe-Vera L.
Tumbuh liar ditempat berudara panas tapi sering ditanam di pot & pekarangan rumah sbg tanaman hias.
Kandungan kimia :
Aloin, Barbaloin, Aloe-Emolin, Aleonin, Aloesin
Kegunaan :
Anti-biotik, penghilang rasa sakit, merangsang pertumbuhan sel baru pd kulit, cacingan, susah buang air kecil, sembelit, batuk, diabetes, radang tenggorokan, menurunkan kolesterol.
12. Bee-Pollen
Bee-pollen adl : Serbuk sari bunga jantan yg diambil oleh lebah & digunakan sbg makanan pokok dari seluruh koloni lebah madu. (tepung sari bunga)
Kandungan kimia :
Protein (asam amino bebas), Vitamin (B-Complex & Asam Folat, Vit A-C-D-E), Beta-carotene, selenium, Lesitin, karbohidrat, mineral.
Asam Glutamat : zat aktif u sel jar. Otak, nafsu-makan pd anak, atasi epilepsy.
Kegunaan :
Meningkatkan daya tahan/kekebalan tubuh, memperlambat proses penuaan & menghaluskan muka, menurunkan kolesterol, memperlancar fungsi pencernaan, mengobati asma, meningkatkan kesuburan bagi pria & wanita, lancarkan peredaran darah merah & meningkatkan kadar Oksigen hingga 25% lebih banyak u konsentrasi & daya piker tajam dari anak2 s/d dewasa, tingkatkan stamina & vitalitas tubuh, turunkan kolesterol, atasi asma.
13. Bangle = Zingiber Purpureum Roxb. Purple-Ginger.
Tumbuh pd daerah yg cukup kena sinar matahari
Khasiat :
Mengurangi lemak tubuh -> mengurangi berat badan, pelangsing.
Sembuhkan cacingan, demam, masuk-angin, gangguan mata, pusing krn deman, nyeri sendi, perut mulas, sakit kuning, peluruh kentut/Karminatif, peluruh dahak/Expectorant, pembersih darah.
Dalam rimpang bangle terdpt zat aktif u tingkatkan aktifitasenzim Lipase u hidrolisis lemak tubuh. Bangle tidak disarankan u ibu hamil. Khasiat bangle dgn herbail lain = ok
Kandungan kimia :
Minyak atsiri (sineol, tinen), dammar, pati, flavonoid & tanin
14. Celery = daun Seledri = Apium Graviolen L.
Yang digunakan : daun & batangnya.
Daun & batang seledri paling byk simpan kandungan aktif yg berkhasiat.
Akar seledri dihindari karma terdapat racun.
Khasiat :
Ringankan gejala hypertensi ringan, normalkan kadar asam urat dlm darah, me(-)i rasa sakit pd sendi akibat asam-urat, lancarkan sirkulasi darah, turunkan tekanan darah, normalkan gula darah, jaga kesehatan jantung, tulang, sendi & atasi infeksi saluran kencing & menetralisir efek degeneratif & radikal bebas.
Kandungan Kimia :
glikosida, Apiin, Isoquersetin, Umbilliferon, Mannite, Inosite, Asparagin, Glutamin, Cholin, Linamaros, Pro-vitamin A, Vit-B, Vit-C.
pada daun : Minyak Atsiri, protein, Kalsium, garam fosfat.
Tidak disarankan : Penderita darah rendah
15. Kumis-Kucing = Orthosiphon Aristatus O.
Khasiat daun :
Meluruhkan batu urin/batu-ginjal, menurunkan kadar gula darah, rematik, anti-radang & melancarkan air seni
Kandungan Kimia :
Senyawa Kalium, glukosida, minyak atsiri, sapotonin, ortosifonida & flavon (sinansetin, cupatorin, scutellarein, tetra-metil eter, salvigenin, rhamnazin)
Kandungan Saponin & Tannin pd daun bisa jg mengobati keputihan. Kandungan ortosifonin & garam Kalium (terutama pd daunnya) adl: komponen utama yg membantu larutnya asam urat, fosfat & oksalat dlm tubuh manusia (terutama dlm kandung kemih, empedu maupun ginjal) shg dpt cegah endapan batu ginjal
16. Mahkota Dewa = Phaleria Macrocarpa
Khasiat buah :
Anti-kanker, anti-tumor, anti-disentri, anti-insekta, hepato-toxic, atasi diabetes, hypertensi, hepatitis, rematik & asam urat
Buahnya mengandung : :
Saponin, Alkaloid, Polifenol, Plavonoid, Lignan, Minyak Atsiri, Sterol (yg berkhasiat sembuhkan berbagai penyakit kronis spt kanker, diabetes mellitus dsb)
Kasiat daun :
Atasi TBC, radang mata & tenggorokan.
Wanita hamil & bayi dilarang konsumsi mahkota-dewa karma kandungan kimianya sangat aktif.
Kelebihan dosis : pusing & mual
17. Paria = Momordica Charantia L.
Khasiat :
Atasi batuk, radang tenggorokan, demam, malaria, nafsu-makan, sariawan. Diabetess, cacingan, disentri.
18. Sambung-Nyawa = Gynura Procumbens L.
Kasiat :
Anti-bakteri, obati jantung, radang tenggorokan, batuk, sinusitis, polip, amandel.
19. Daun Sendok = Plantago Mayor
Khasiat :
Atasi gangguan pd saluran kencing, batu-empedu & prostate (Sembuhkan radang saluran kencing, radang prostate)
20. Mengkudu = Noni
Khasiat buah :
Meningkatkan vitalitas tubuh, menurunkan gula darah & tekanan darah, anti-septic, anti-radang, penyembuhan liver, stroke.
21. Keladi Tikus = Rodent-Tuber = Typhonium Flagelliforme
Khasiat :
Hentikan & mengatasi kanker serta penyakit berat lain seperti hepatitis.
Tidak dianjurkan untuk direbus, hanya akan mengurangi khasiatnya saja.
Sumber : Kumpulan Artikel dari www.lizaherbal.com
Rabu, 11 Januari 2012
Obat dari Bumi
Belakangan ini semangat kembali ke alam semakin marak. Meski demikian,
bukan berarti orang semakin akrab dengan alam sekelilingnya. Keluasan
wawasan nenek moyang kita akan tumbuhan obat tidak menurun ke kita meski
kita mulai menenggak obat-obatan alami. Masalahnya cuma satu: kita
tetap menjadi konsumen.
Kita mempercayakan segalanya kepada tabib atau perusahaan peracik obat alami. Kita tidak tahu apakah obat-obatan itu benar-benar alami atau cuma akal-akalan orang yang ingin cari untung. Kalau pun benar-benar natural, kita juga tak tahu apakah tumbuhan yang dipakai adalah manjur.
Kita yang awam terhadap ilmu tumbuhan dan pengobatan memang tidak mungkin menghindari mereka yang punya keahlian. Terutama untuk menciptakan obat-obatan alami yang ampuh sekali. Tapi untuk sekadar membuat obat-obatan pencegahan, tampaknya terlalu berlebihan kalau kita sampai mempercayakannya juga kepada pabrik obat.
Praktis memang, tapi tentu kesegarannya sudah berkurang dan pasti ada beberapa hal yang hilang selama proses pembuatan. Jadi kenapa tidak mencoba mengenali sendiri tanaman obat yang ada di sekitar kita?
Sambiloto (Andrographis paniculata).
Baik akar, batang, daun hingga bunga sambiloto bisa dimanfaatkan untuk pengobatan. Mulai dari obat demam, pencernaan, luka-luka atau koreng, radang telinga, dan masuk angin.
Pegagan (Centella asiatica).
Tumbuhan yang terasa manis dan sejuk ini juga bisa dimanfaatkan secara keseluruhan. Misalnya untuk obat demam, obat penurun panas dalam, penambah nafsu makan, peluruh air seni, dan obat hepatitis.
Daun Dewa (Gynura procumbens). Daun Dewa hanya dimanfaatkan daun dan umbinya saja. Biasanya digunakan untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan darah, termasuk untuk mengobati bekas gigitan hewan berbisa.
Salam (Syzygium polyantum). Salam bisa digunakan untuk obat mulai dari akar, batang, daun, hingga buah. Meski yang lebih populer digunakan untuk obat ataupun bumbu masak. Berbagai penyakit yang bisa diobati dengan daun salam adalah kencing manis, darah tinggi, maag, diare dan kolesterol.
Temu Mangga (Curcuma mangga). Temu Mangga biasanya dimanfaatkan rimpangnya. Umumnya digunakan untuk mengobati sakit perut, pengurang lemak perut, penambah nafsu makan, penguat syahwat, penangkal racun, penurun demam, pecahar, gatal, bronchitis, asma, masuk angin, penyakit kulit dan obat radang.
Temu Putih (Curcuma zedoaria). Rimpang tumbuhan ini rasanya sangat pahit. Tapi justru bagian rimpang inilah yang digunakan untuk obat seperti lemah syahwat, pelancar peredaran darah, penambah nafsu makan, pelancar pernafasan, sakit perut, penawar racun, memar, terkilir, penghangat badan, penghilang bau nafas, obat luka, obat cacing, obat demam, wasir, bronchitis dan epilepsi.
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Rimpangnya yang berwarna kuning terasa pahit dengan aroma tajam. Guna tumbuhan ini di antaranya, adalah untuk mengembalikan stamina tubuh, penyakit kuning, mengobati demam karena malaria, mengatasi sembelit, memperbanyak produksi air susu ibu, membersihkan darah, menghilangkan bau badan, mengobati eksim, memperbaiki penceranaan, mengatasi gangguan di perut, menghilangkan flek dan jerawat, merontokkan lemak.
Tapak Liman (Elephanthopus scaber). Seluruh bagian tanaman Tapak Liman bisa dimanfaatkan untuk obat. Tapi yang paling sering dimanfaatkan adalah daunnya. Misalnya saja untuk mengobati batuk, sariawan, panas dalam, diare, bisul, eksim, keputihan, pelembut kulit kaki, mengatasi gigitan hewan berbisa, dan obat pembengkakan.
Mengkudu (Morinda citrifolia). Tumbuhan ini mulai banyak dibicarakan orang beberapa tahun terakhir. Bahkan mulai diolah menjadi minuman kesegaran, kapsul dan sebagainya. Meski orang banyak mengenal hanya buahnya yang bisa digunakan sebagai obat, ternyata hampir semua bagian tumbuhan bisa digunakan untuk obat. Seperti untuk menghilangkan hawa lembab di tubuh, penambah kekuatan tulang, pembersih darah, melancarkan berkemih, melancarkan haid, pelembut kulit, obat bauk, obat cacingan, pencahar dan antiseptik.
Alpukat (Persea americana). Alpukat lebih dikenal sebagai buah. Tetapi baik buah maupun daun dan biji bisa digunakan untuk obat. Misalnya untuk obat sulit berkemih, dan mengurangi rasa sakit dan radang.
Alang-alang (Imperata cylindrica). Meski dianggap sebagai hama, akar alang-alang bisa digunakan untuk obat turun panas, mempermudah berkemih, penghenti pendarahan, obat mimisan, obat muntah darah, obat kencing nanah, hepatitis, dan radang ginjal.
Bangle (Zingiber purpuneum). Aromanya tajam dan tengik, dengan rasa yang pahit dan pedas. Bangle biasa diambil rimpangnya. Misalnya untuk obat luka-luka, kejang pada anak-anak, luka memar, pelangsing, pemulih penglihatan, hepatitis, demam, gangguan di perut, penawar racun, obat pusing, obat cacing, dan encok.
Sidaguri (Sida rhombifolia). Akar, daun dan bunga sidaguri biasa digunakan untuk obat sakit gigi, mulas, gatal, kudis, obat cacing kremi, atau luka akibat sengatan lebah.
Purwoceng (Pimpinella pruatjan). Tumbuhan langka ini biasa dimanfaatkan daun, akar, dan bunganya. Biasanya digunakan untuk obat kuat dan mempermudah berkemih.
Tempuyung (Sonchus arvensis). Tumbuhan ini hanya dimanfaatkan batang dan daunnya. Yaitu untuk mengobati saluran berkemih, batu empedu, darah tinggi, kencing batu, bisul, infeksi usus buntu, disentri, dan wasir.
Sambung Nyawa (Gynura procumbens). Meski daunnya sering digunakan untuk lalapan teman makan, ternyata daun tumbuhan ini juga bermanfaat untuk penyakit darah tinggi.
Jati Belanda (Gauzuma ulmifolia). Daun, buah dan kulit batang bisa dimanfaatkan untuk pelangsing, obat batuk rejan, obat nyeri perut, perut kembung, sesak nafas, pelancar keringat, oba bengkak, dan obat sakit kaki gajah.
Lidah Buaya (Aloe Vera). Daging daunnya biasa digunakan untuk obat luka bakar, pencuci muka atau tonikpenyubur rambut.
Kunyit (Curcuma domestica). Kunyit dipakai untuk bahan kecantikan tapi rimpangnya juga bisa dipakai untuk obat luka memar, selesma atau untuk merangsang ASI
Sumber : www.tempointeraktif.com tanggal 19 Agustus 2003
Kita mempercayakan segalanya kepada tabib atau perusahaan peracik obat alami. Kita tidak tahu apakah obat-obatan itu benar-benar alami atau cuma akal-akalan orang yang ingin cari untung. Kalau pun benar-benar natural, kita juga tak tahu apakah tumbuhan yang dipakai adalah manjur.
Kita yang awam terhadap ilmu tumbuhan dan pengobatan memang tidak mungkin menghindari mereka yang punya keahlian. Terutama untuk menciptakan obat-obatan alami yang ampuh sekali. Tapi untuk sekadar membuat obat-obatan pencegahan, tampaknya terlalu berlebihan kalau kita sampai mempercayakannya juga kepada pabrik obat.
Praktis memang, tapi tentu kesegarannya sudah berkurang dan pasti ada beberapa hal yang hilang selama proses pembuatan. Jadi kenapa tidak mencoba mengenali sendiri tanaman obat yang ada di sekitar kita?
Sambiloto (Andrographis paniculata).
Baik akar, batang, daun hingga bunga sambiloto bisa dimanfaatkan untuk pengobatan. Mulai dari obat demam, pencernaan, luka-luka atau koreng, radang telinga, dan masuk angin.
Pegagan (Centella asiatica).
Tumbuhan yang terasa manis dan sejuk ini juga bisa dimanfaatkan secara keseluruhan. Misalnya untuk obat demam, obat penurun panas dalam, penambah nafsu makan, peluruh air seni, dan obat hepatitis.
Daun Dewa (Gynura procumbens). Daun Dewa hanya dimanfaatkan daun dan umbinya saja. Biasanya digunakan untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan darah, termasuk untuk mengobati bekas gigitan hewan berbisa.
Salam (Syzygium polyantum). Salam bisa digunakan untuk obat mulai dari akar, batang, daun, hingga buah. Meski yang lebih populer digunakan untuk obat ataupun bumbu masak. Berbagai penyakit yang bisa diobati dengan daun salam adalah kencing manis, darah tinggi, maag, diare dan kolesterol.
Temu Mangga (Curcuma mangga). Temu Mangga biasanya dimanfaatkan rimpangnya. Umumnya digunakan untuk mengobati sakit perut, pengurang lemak perut, penambah nafsu makan, penguat syahwat, penangkal racun, penurun demam, pecahar, gatal, bronchitis, asma, masuk angin, penyakit kulit dan obat radang.
Temu Putih (Curcuma zedoaria). Rimpang tumbuhan ini rasanya sangat pahit. Tapi justru bagian rimpang inilah yang digunakan untuk obat seperti lemah syahwat, pelancar peredaran darah, penambah nafsu makan, pelancar pernafasan, sakit perut, penawar racun, memar, terkilir, penghangat badan, penghilang bau nafas, obat luka, obat cacing, obat demam, wasir, bronchitis dan epilepsi.
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Rimpangnya yang berwarna kuning terasa pahit dengan aroma tajam. Guna tumbuhan ini di antaranya, adalah untuk mengembalikan stamina tubuh, penyakit kuning, mengobati demam karena malaria, mengatasi sembelit, memperbanyak produksi air susu ibu, membersihkan darah, menghilangkan bau badan, mengobati eksim, memperbaiki penceranaan, mengatasi gangguan di perut, menghilangkan flek dan jerawat, merontokkan lemak.
Tapak Liman (Elephanthopus scaber). Seluruh bagian tanaman Tapak Liman bisa dimanfaatkan untuk obat. Tapi yang paling sering dimanfaatkan adalah daunnya. Misalnya saja untuk mengobati batuk, sariawan, panas dalam, diare, bisul, eksim, keputihan, pelembut kulit kaki, mengatasi gigitan hewan berbisa, dan obat pembengkakan.
Mengkudu (Morinda citrifolia). Tumbuhan ini mulai banyak dibicarakan orang beberapa tahun terakhir. Bahkan mulai diolah menjadi minuman kesegaran, kapsul dan sebagainya. Meski orang banyak mengenal hanya buahnya yang bisa digunakan sebagai obat, ternyata hampir semua bagian tumbuhan bisa digunakan untuk obat. Seperti untuk menghilangkan hawa lembab di tubuh, penambah kekuatan tulang, pembersih darah, melancarkan berkemih, melancarkan haid, pelembut kulit, obat bauk, obat cacingan, pencahar dan antiseptik.
Alpukat (Persea americana). Alpukat lebih dikenal sebagai buah. Tetapi baik buah maupun daun dan biji bisa digunakan untuk obat. Misalnya untuk obat sulit berkemih, dan mengurangi rasa sakit dan radang.
Alang-alang (Imperata cylindrica). Meski dianggap sebagai hama, akar alang-alang bisa digunakan untuk obat turun panas, mempermudah berkemih, penghenti pendarahan, obat mimisan, obat muntah darah, obat kencing nanah, hepatitis, dan radang ginjal.
Bangle (Zingiber purpuneum). Aromanya tajam dan tengik, dengan rasa yang pahit dan pedas. Bangle biasa diambil rimpangnya. Misalnya untuk obat luka-luka, kejang pada anak-anak, luka memar, pelangsing, pemulih penglihatan, hepatitis, demam, gangguan di perut, penawar racun, obat pusing, obat cacing, dan encok.
Sidaguri (Sida rhombifolia). Akar, daun dan bunga sidaguri biasa digunakan untuk obat sakit gigi, mulas, gatal, kudis, obat cacing kremi, atau luka akibat sengatan lebah.
Purwoceng (Pimpinella pruatjan). Tumbuhan langka ini biasa dimanfaatkan daun, akar, dan bunganya. Biasanya digunakan untuk obat kuat dan mempermudah berkemih.
Tempuyung (Sonchus arvensis). Tumbuhan ini hanya dimanfaatkan batang dan daunnya. Yaitu untuk mengobati saluran berkemih, batu empedu, darah tinggi, kencing batu, bisul, infeksi usus buntu, disentri, dan wasir.
Sambung Nyawa (Gynura procumbens). Meski daunnya sering digunakan untuk lalapan teman makan, ternyata daun tumbuhan ini juga bermanfaat untuk penyakit darah tinggi.
Jati Belanda (Gauzuma ulmifolia). Daun, buah dan kulit batang bisa dimanfaatkan untuk pelangsing, obat batuk rejan, obat nyeri perut, perut kembung, sesak nafas, pelancar keringat, oba bengkak, dan obat sakit kaki gajah.
Lidah Buaya (Aloe Vera). Daging daunnya biasa digunakan untuk obat luka bakar, pencuci muka atau tonikpenyubur rambut.
Kunyit (Curcuma domestica). Kunyit dipakai untuk bahan kecantikan tapi rimpangnya juga bisa dipakai untuk obat luka memar, selesma atau untuk merangsang ASI
Sumber : www.tempointeraktif.com tanggal 19 Agustus 2003
Langganan:
Postingan (Atom)














